Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Jumat, 10 Februari 2017

PENENANGAN MUARA TIGA


‘Pertama kali akun kesini tahun 2009’ demikian kataku kepada Kades Muara Tiga ketika awal tahun 2017 aku bersama team Panoramic of Lahat berkunjung ke air terjun Penenangan Desa Muara Tiga Kecamatan Mulak Ulu Kabupaten Lahat. Aku bersama team Panoramic of Lahat yang terdiri dari Rian, Wahyu, Deri dan Debi tak menghiraukan udara dingin dan gerimis yang menerpa kami dalam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor menuju Mulak Ulu. Aku sempat berhenti di simpang Asam dan bertanya dengan team apakah berhenti dahulu dan menunggu gerimis berhenti atau tetap melanjutkan perjalanan, teamku menjawab tetap lanjutkan perjalanan. Dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju Mulak Ulu walau gerimis menguyur tubuh kami.
Dari Kota Lahat menuju air terjun Penenangan di Desa Muara Tiga Kecamatan Mulak Ulu sekitar 50 km atau 1 jam perjalanan.  Untuk menuju kesana dari Kota Lahat menuju ke arah  Pagaralam dan menyimpang ke kiri di simpang Asam. Dan terus menyusuri jalan lintas Kota Agung – Semendo. Setiba di desa Muara Tiga belok ke kiri menuju arah jalan lintas Muara Tiga ke desa Muara Danau Kecamatan Tanjung Tebat dan setelah SMAN Muara Tiga ada jembatan sungai Mulak belok kanan. Jarak dari simpang desa Muara Tiga ke jembatan hanya sekitar 500 meter dan dari jembatan ke area parkir air terjun berjarak sekitar 300 meter menyusuri jalan kebun yang telah di aspal sepanjang 100 meter. Dari area parkir sudah terlihat air terjun Penenangan. Perjalanan berikutnya menuruni jalan terjal yang belum di tata dengan baik dan memerlukan adrenalin untuk menuruninya.
Setiba di bibir sungai dapat dengan jelas melihat keindahan air terjun. Dari sini kita dapat berphoto ria dengan background air terjun dan untuk mendekat ke air terjun harus menelusuri sungai dan loncat dari batu ke batu.
Air terjun dengan ketinggian sekitar 30 meter dengan airnya yang jernih dan deras jatuh membentuk sebuah danau yang cukup besar dan dalam, terlihat dari warnanya yang kehijauan pertanda kedalaman air.
Setelah menyeberangi sungai dan mendekat ke tepi danau di bawah air terjun aku berbincang dengan kepala desa Mura Tiga. Aku sampaikan agar di tepi danau ini diberi tanda sebagai pemberitahuan kepada semua pengunjung air terjun agar tidak berenang di danau di bawah air terjun dan sebagai penggantinya dapat berenang di bagian ilir danau yang tidak begitu dalam. Hal ini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Selain itu aku sampaikan agar jalan turun menuju air terjun dibuat dan didesain dengan konsep ekowisata begitu juga dengan jembatan yang akan dibangun untuk menyeberangi sungai dan fasilitas lainnya seperti jalan di area air terjun, toilet, pondok dan sebagainya. Dengan konsep ekowisata air terjun lebih terlihat natural, indah  dan menjadi daya tarik tersendiri.
Aku juga sampaikan agar area parkir segera disiapkan dan jalan dari jembatan ke area parkir dibuat dengan lebar minimal 8 meter agar masuk keluar semua kendaraan termasuk bus dari dan ke air terjun lebih leluasa. Begitu juga tanda petunjuk ke arah air terjun dari berbagai arah agar segera di buat agar masyarakat lebih mudah untuk menuju ke air terjun dan sebagai sarana promosi. Selanjutnya adalah cara penggelolaan air terjun yang saling menguntungkan dan tidak membebankan para pengunjung air terjun. Hal ini sangat penting agar obyek wisata yang ada di desa dapat meningkatkan perekonomian desa.
Banyak obyek wisata yang hanya berusia seumur jagung karena tidak dikelola dengan baik dan professional bahkan membuat pengunjung kecewa dan tidak mau datang kembali. Dengan penggelolaan yang baik dan professional dapat menjadi promosi yang berdampak positif terhadap pengembangan pariwisata.
Air terjun Penenangan sangat potensial menjadi obyek wisata karena tidak jauh dari jalan lintas Kota Agung – Semendo dan sangat dekat dengan perkampungan penduduk dan pusat kecamatan Mulak Ulu. Selain itu air terjun ini tidak pernah kering airnya, selalu bersih dan jernih.
Selain potensi air terjun Penenangan desa Muara Tiga juga mempunyai sungai Mulak yang jernih airnya dan sangat potensial dijadikan arena tubing untuk mengarungi sungai mulak. Dan tepat di atas arena tubing terdapat kebun buah durian yang baru saja di buka beberapa bulan ini dan pertengahan tahun buah durian montong sudah dapat dinikmati.
Dengan segala potensi yang ada dapat dijadikan sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah desa yang akan berdampak terhadap perekonomian desa. Apalagi didukung penuh oleh semua komponen seperti Dinas Pariwisata, DPRD, Camat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat desa Muara Tiga.

Senin, 06 Februari 2017

DAYANG RINDU PEMIKAT HATI


Alkisah ada seorang gadis yang cantik dan baik hati. Gadis ini tinggal di sebuah desa yang bernama desa Penindaian sebuah desa yang aman dan damai dengan penduduknya yang ramah dan saling menolong. Gadis ini bernama Dayang Rindu dan sangat terkenal di desa dan desa sekitarnya karena kecantikan dan kebaikannya, sehingga banyak pemuda desa dan desa sekitar yang tertarik dan bermaksud meminang Dayang Rindu untuk dipersunting menjadi istri. Karena banyaknya pemuda yang terpikat oleh kecantikan dan kebaikan Dayang Rindu maka Dayang Rindupun bingung untuk memutuskan pemuda yang mana yang layak untuk dijadikan suaminya. Agar tidak menyakiti salah satu pemuda yang terpikat olehnya maka Dayang Rindu memutuskan untuk mengasingkan diri di dalam hutan di atas bukit nan jauh dari desanya agar tak ada pemuda desa yang mencarinya untuk dijadikan istri.
Di hutan dimana Dayang Rindu mengasingkan diri terdapat sebuah air terjun yang digunakan Dayang Rindu untuk mandi dan memanjakan diri. Nah cerita ini secara turun menurun sangat melekat di masyarakat desa Penindaian hingga kini. Maka air terjun yang dahulu kala digunakan Dayang Rindu untuk mandi dan memanjakan diri dinamakan Air Terjun Dayang Rindu.
Untuk menuju air terjun Dayang Rindu yang berada di sebelah Selatan desa Penindaian kec.Mulak Ulu, kab.Lahat, Sumatera Selatan dapat menggunakan sepeda motor yang telah di design khusus untuk medan menanjak dan berlumpur.
Ketika kami team Panoramic of Lahat yang terdiri dari Mario selaku ketua team dan anggota Rian, Deby, Deri dan Wahyu mengunjungi air terjun di musim hujan maka jalan tanah yang menanjak dan licin sangat susah untuk dilalui walau sepeda motor telah di design sedemikian rupa. Beberapa kali kami tergelincir dan harus berhenti. Jalanan menanjak dan licin dengan kebun kopi di kanan dan kiri yang baru mulai berbunga menjadi saksi berjuangan kami untuk melihat keindahan air terjun Dayang Rindu. Kami dapat rasakan betapa susah dan sulitnya melalui jalan ini apalagi penduduk yang setiap hari melalui jalan ini.
Setelah menyusuri jalan tanah yang licin selama satu jam perjalanan sampailah kami di sebuah pondok kayu dan di sini kami parkir sepeda motor kami untuk selanjutnya berjalan kaki menuju air terjun selama 10 menit perjalanan. Dalam perjalanan ini kami didampingi sahabat kami asal Mulak Ulu Ivi Hamzah yang merupakan penggiat pariwisata kecamatan Mulak Ulu dan 5 orang penduduk desa.
Tantangan jalan menanjak, licin dan lelah selama satu jam perjalanan terbayar sudah dengan keindahan air terjun Dayang Rindu yang berada di ketinggian 1.000 mdpl di perbukitan Bukit Barisan. Air terjun dengan daun pohon cacar air yang hijau dan air nan jernih jatuh dari ketinggian sekitar 75 meter terlihat indah dan sejuk di pandang. Tak puas hanya melihat dari kejauhan maka kami mendekat dan memanjat menapaki aliran air terjun.
Air terjun ini berasal dari ayek tulung atau sumber mata air di atas bukit yang merupakan bagian dari gugusan Bukit Barisan dan mengalir membentuk sungai Petar. Dan area di sekitar air terjun di sebut kawasan/daerah Petar yang konon di kawasan ini banyak terdapat pohon petai.
Di sekitar air terjun merupakan kebun kopi yang telah di garap masyarakat puluhan tahun silam sehingga tidak ada lagi pohon-pohon besar. Hal ini sangat disayangkan karena ketika musim penghujan dapat terjadi lonsor dan erosi yang dapat mengakibatkan sendimentasi sungai dan tidak menutup kemungkinan terjadi banjir yang akan merugikan masyarakat sendiri.
Keberadaan air terjun Dayang Rindu semakin mengokohkan Kabupaten Lahat sebagai Bumi Seratur Air Tejun. Dari data yang dimiliki Panoramic of Lahat saat ini di Kabupaten Lahat terdapat 126 air terjun yang tersebar di beberapa kecamatan dengan ketinggian dan keindahan yang berbeda. Di Kecamatan Mulak Ulu terdapat beberapa air terjun seperti di desa Muara Tiga, Lesung Batu, Geramat, Pajar Bulan, Lawang Agung dan Penandingan.
Keindahan air terjun Dayang Rindu dapat dijadikan destinasi wisata akan tetapi infrastruktur untuk menuju air terjun dan fasilitas di air terjun perlu disiapkan dengan baik seperti area parkir, area untuk bermain air, tempat ganti baju, toilet, tempat sampah, tempat duduk, tempat berteduh, kedai makan dan minum. Pemerintah Desa dan masyarakat termasuk tokoh masyarakat dan pemuda setempat harus berupaya agar air terjun Dayang Rindu dapat menjadi destinasi wisata yang akan membantu perekonomian desa. Selain itu juga dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lahat dalam hal ini Dinas Pariwisata dan DPRD Kabupaten Lahat sangat dibutuhkan untuk terwujudnya destinasi wisata apalagi saat ini Kabupaten Lahat telah ditetapkan menjadi Kawasan Strategi Pariwisata Propinsi (KSPP) di propinsi Sumatera Selatan. Hanya ada 5 dari 17 kabupaten/kota di propinsi Sumatera Selatan yang ditetapkan menjadi KSPP maka hal ini menjadi motivasi tersendiri untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Lahat.

Sabtu, 28 Januari 2017

TABIR KEAGUNGAN LELUHUR


Pagi nan cerah menyapa kami sekeluarga dan seakan   mengajak kami untuk menikmati indahnya pagi. Aku dan keluarga telah siap menyapa pagi nan indah untuk melakukan traveling melihat keindahan panorama alam kabupaten Lahat nan asri dan indah di bagian hulu Kota Lahat.
Perjalanan selama 30 menit sangat nyaman, jalanan yang masih sepi dan udara perbukitan yang segar menambah indahnya perjalanan. Tak terasa kami telah memasuki desa Lebuhan. Desa ini sangat asing bagi kami sekelurga. Kami belum pernah memasuki desa ini. Aku mengetahui desa ini dari seorang sahabat yang tinggal di Kota Agung. Mulanya aku bertanya tentang keberadaan situs-situs megalitik yang ada di Kecamatan Kota Agung dan Kecamatan Tanjung Tebat yang dia ketahui dan sabahatku bercerita ada juga bebatuan di desa Lebuhan tapi belum mengetahui secara pasti bentuk dari bebatuan tersebut.
Di awal Mei 2014 di hari libur aku mengajak keluargaku ke desa Lebuhan. Setelah memasuki desa aku terbaca sebuah tulisan Desa Pamsimas Desa Padang Perigi. Sekarang aku baru tahu bahwa desa Lebuhan secara resmi bernama Desa Padang Perigi di Kecamatan Tanjung Tebat Kab.Lahat. Lebuhan sendiri berarti belebuh atau membuat sawah.
Aku bertanya kepada beberapa penduduk desa, apakah di desa ini ada batuan yang berbentuk patung orang atau hewan, lesung atau lumpang atau bentuk lainnya. Seorang ibu menjawab pertanyaanku “ dek katek kalo batu-batu loh itu, ade di sawah kami batu biase”.Lalu seorang bapak menambahkan “ kalo batu-batu bebentuk ade di Penarang (Batu Bute Muara Danau), ade pule di Pagar Alam. Setelah mendengar keterangan dari penduduk aku minta untuk diantarkan ke batu biasa yang disebut ibu tadi. Dengan diantar Firsah seorang anak yang masih duduk di bangku SMA, aku dan keluarga serta keluarga sahabatku yang berasal dari Kota Agung kami menyusuri pematang sawah menuju batu biasa yang di maksud sang ibu di desa tadi.
Aku berjalan pada barisan paling depan bersama Firsah sedang istri dan anak-anakku berada di belakang kami. Setelah berjalan sekitar 500 meter, istri dan anak-anakku tertinggal cukup jauh dan aku katakan kepada mereka kalau tak kuat jangan paksakan, kembali saja ke desa. Aku masih berjalan di bagian depan bersama Firsah sedang  istri dan anak-anakku tertinggal makin jauh. Sekitar 200 meter lagi dari batu yang akan kami datangi, kami sempat berhenti untuk menunggu istri dan anak-anakku, tetapi setelah menuju selama 10 menit dan mereka tidak ada maka kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya Firsah membawaku ke batu yang di masksud ibu di desa sebagai batu biasa.Yach memang hanya sebuah batu berbentuk persegi dan datar di tengah sawah. Batu ini biasa di sebut Batu Datar. Kemudian Firsah membawaku ke batu lainnya. Betapa terkejut, kaget, prihatin dan bangganya aku setelah melihat batu yang berada di depan kami. Sebuah batu dengan lebar sekitar 80 cm tapi ada lekuk-lekuk pada bagian atasnya. Batu ini hanya terlihat 10 cm dari atas tanah. Aku menggelilingi batu ini dan akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa batu ini adalah sebuah arca manusia dengan bagian badan ke bawah tertimbun tanah dan bagian kepala telah lepas, aku bisa lihat dari patahan batu bagian atasnya.
Dan tak lama kemudian seorang ibu menghampiri kami dan mengatakan bahwa batu tersebut adalah sebuah arca manusia sedang bagian kepala telah lepas dan saat ini berada di parit sawah. Aku berjalan menuju lokasi kepala arca akan tetapi aku tidak dapat melihatnya karena telah tertimbun tanah dan di dalam parit. Lalu ibu yang ternyata adalah pemilik lahan,  memperlihat batu lainnya yang berjarak 5 meter dari arca. Di sepanjang parit ada 2 buah batu tapi ibu ini tidak dapat memastikan bentuk dari kedua batu tersebut karena tertutup rerumputan dan tanah.
Ketiga batu ini telah aku dokumenkan dengan kameraku dan aku catat titik koordinat, elevasi dan catatan lainnya. Kemudia ibu ini juga memberi keterangan ada batu lainya di sekitar sawah ini yaitu di perkebunan coklat yang berjarak sekitar 200 meter. Dan akupun menuju perkebunan coklat yang dimaksud. Disini aku bertemu Yustam sang pemilik kebun. Yustam memberi keterangan tentang batu yang ada di kebunnya berupa batu datar. Kemudian kami kembali ke arca semula bersama Yustam. Aku minta kepada Yustam untuk membersihkan batu-batu yang tertimbun rumput dan tanah tersebut.
Setelah sebagian rerumputan dan tanah di angkat dari batu oleh Yustam maka terlihat jelas bahwa batu-batu tersebut Arca Manusia. Aku sangat terkejut dengan penemuan ini dan juga heran mengapa arca ini tidak banyak di ketahui masyarakat desa Lebuhan atau Padang Perigi. Dan juga masyarakat tidak tahu nama atau bentuk arca-arca ini. Aku bertanya lebih lanjut tentang kemungkinan ada temuan lainnya dan Yustam mengatakan bahwa masih ada 1 lagi arca tak jauh dari arca yang sudah terlihat tetapi arca ini masih tertimbun dibawah sawah. Jadi di situs ini ada 4 arca manusia.
Wououo....... sangat menakjubkan ada 4 arca di sebuah  situs. Tak sia-sia setelah berjalan di terik mentari dan menyusuri pematang sawah aku dapat melihat tinggalan budaya leluhur yang sangat berharga dan tinggi nilai-nilai budaya. Pada kedua arca terlihat bagian lengan atau kaki dengan gelang-gelang seperti pada arca di Tinggi Hari Gumay Ulu, Lahat.
Malam harinya aku menghubungi kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi Bpk Winston Douglas Mambo dan beliau sangat antusias atas temuan ini dan 3 hari kemudian hasil temuan aku email ke beliau dan juga ke Balai Arkeologi Palembang. Lalu 2 minggu kemudian team BPCB Jambi langsung meninjau situs.

Temuan ini merupakan temuan peninggalan masa prasejarah terbaru dan menjadi situs ke 43 di Kabupaten Lahat yang tergabung dalam Megalitik Pasemah. Tidak mengherankan bila Kabupaten Lahat pada tahun 2012 mendapat rekor MURI sebagai Pemilik Situs Terbanyak dan berjuluk Bumi Seribu Megalitik. Hal ini menunjukkan betapa banyaknya tinggalan megalitik di Kabupaten Lahat dan sudah selayaknya dikenal dan dikenalkan kepada seluruh dunia dengan memanfaatkan megalitik sebagai obyek wisata sesuai dengan UU No.11 tahun 2010 Pasal 85 ayat 1, berbunyi “ Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan setiap orang dapat memanfaatkan Cagar Budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata.
Megalitik Pasemah telah terkenal di seluruh dunia dan sejak tahun 1850 telah di teliti oleh L. Ullman dan tahun 1932 telah di bukukan oleh Van der Hoop dengan buku berjudul “Megalithic Remain in South Sumatera”. Bahkan pada buku berjudul Indonesia yang di tulis oleh Lonely Planet dan terbit di Australian menyebut bahwa The Pasemah carving are considered to be the best example of prehistoric stone sculpture in Indonesia and fall into two distinct styles. The early style dates from almost 3.000 years ago and features fairly crude figures squatting with hands on knee or arms folded over chest.The best examplesof this type are at a site called Tinggi Hari, 20 km from Lahat, west of the small river town of Pulau Pinang. Jadi kalau masyarakat dunia sudah mengenal Megalitik Pasemah (Lahat, Pagar Alam dan Empat Lawang) bagaimana dengan masyarakat Sumatera Selatan dan Indonesia???
Semoga dengan temuan terbaru ini akan menggugah seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan dan Indonesia untuk semakin mengenal, mencintai, memelihara, melestarikan, mengembangkan, memanfaatkan  dan bangga sebagai bangsa Indonesia yang telah memiliki budaya yang maju pada ribuan tahun lalu.

Jumat, 27 Januari 2017

KEINDAHAN PANORAMA IMPIT BUKIT



SETELAH menempuh perjalanan sejauh 72 km dari Kota Lahat, kami tiba di Desa Pelajaran Kecamatan Jarai. Kami disambut dengan sangat hangat oleh Idil Adha, Kepala Desa Pelajaran beserta perangkat desa termasuk Minal, Ketua Karang Taruna Desa Pelajaran dan anggotanya. Kami dipersilahkan untuk menikmati makanan kecil dan teh manis. Idil Adha sangat antusias bercerita tentang kekayaan alam desanya dan rencana pembangunan desanya yang baru saja dia pimpin. 
Tak terasa 30 menit waktu berlalu dan kami menyiapkan segala perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Barisan yang berada di sebelah Utara desa Pelajaran. Kami dari team Panoramic of Lahat yang terdiri dari Mario, Yudha, Bayu, Dian dan Fahri telah siap dengan peralatan kamera dan video beserta perlengkapan perjalanan lainnya sedang Ketua Karang Taruna beserta anggotanya menyiapkan makanan, minuman dan perlengkapan lainnya. 
Kami menyeberangi sebuah jembatan beton di sungai Lintang di tepi desa, kemudian melalui jalan beton dengan lembar sekitar 3 meter dengan pemandangan padi yang telah menguning di kanan dan kiri jalan. Jalan beton ini tidak terlalu panjang hanya sekitar 100 meter. Lalu kami menyusuri jalan tanah dengan pemandangan pohon kopi di sisi kanan dan kiri jalan. 
Setelah berjalan sejauh 500 meter di sisi kiri jalan terdapat tebat (danau) yang bernama Tebat Mandian. Tebat ini mempunyai luas sekitar 2 hektar. Rencananya tebat ini akan dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan dilengkapi berbagai permainan air selain sebagai lahan serapan air, perikanan dan pengairan untuk sawah dan kebun. 
Jalanan terus menanjak ke arah Bukit Barisan. Sepanjang perjalanan kami melintas kebun kopi yang telah berbuah kopi berwarna hijau. Kadang kala kami harus merunduk dan menghindari pohon kopi agar tidak menjatuhkan buah kopi yang akan di panen sekitar bulan Juni nanti. Ketika melintasi kebun kopi terasa adem karena di kebun kopi juga di tanam pohon albasia sebagai pelindung pohon kopi agar pohon kopi tidak langsung tersengat teriknya sinar matahari. Ada juga pohon pete, cempedak dan durian. Tapi sayang ketika kami melintas kami belum dapat menikmati buah durian dan cempedak karena masih kecil dan belum matang. Kamipun harus menyeberangi sungai sebanyak dua kali tetapi sungai ini tidak dalam hanya sebatas betis saja dengan airnya yang bersih dan bening belum tercemar. Jalan tanah dan becek karena malam harinya daerah ini di dera hujan deras. Dengan kondisi jalan seperti itu membuat perjalanan kami sedikit lambat. 
Menurut keterangan untuk menuju air terjun di Bukit Barisan di desa Pelajaran hanya memerlukan perjalanan jalan kaki selama 1,5 jam. Sempat beberapa kali kami berhenti sejenak untuk melepas lelah dan minum seteguk air. Perjalanan menanjak dengan jalan tanah yang becek berlumpur, tenggorokan haus dan melelahkan sendi-sendi setelah melakukan perjalanan sejauh 3 km terbayar sudah dengan panorama alam nan hijau dengan air sungai yang bersih dan bening serta air terjun yang menakjubkan. Gemuruh air sungai telah terdengar sebelum kami sampai di air terjun.
Masyallah, itulah kata pertama yang terucap setelah melihat air terjun dengan air yang bersih putih. Air terjun ini disebut Air Terjun Tangge (Tangga) karena bentuknya yang panjang bertingkat seperti tangga. Kami segera menyiapkan kamera dan video untuk merekam setiap sudut air terjun ini. Kami cukup lama berada disini karena kami ingin mengambil banyak photo dari berbagai sudut. Lalu kami melanjutkan perjalanan menanjak kemudian menurun untuk menuju hamparan. Disebut Hamparan karena adanya bebatuan lebar menghampar di muara sungai. Disini sangat nyaman untuk sejenak melepas lelah, maka disini kami berhenti untuk makan siang sambil menikmati indahnya panorama alam. Dengan nasi bungkus, sayur terong, sawi dan sambel serta secangkir kopi kami nikmati makan siang di Hamparan muara sungai.
Tiga puluh menit kemudian kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju air terjun selanjutnya. Aku sempat bertanya berapa jauh air terjun kedua dari Hamparan muara ini. Baru berjalan sejauh 10 meter aku takjub melihat aliran sungai dengan airnya nan jernih berwarna putih. Aku minta untuk segera mengambil gambar video. Sungguh suatu pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Lalu kami menyusuri tepi sungai dan 50 meter kemudian terlihatlah air terjun.
Sekarang kami berada di air terjun kedua di aliran sungai Lintang. Air terjun ini bernama Air Terjun Gimo. Disebut Air Terjun Gimo karena terletak tak jauh dari Talang Gimo. Gimo adalah nama seorang penduduk yang tinggal di Talang (dusun kecil dekat hutan). Air Terjun Gimo dengan tinggi sekitar 15 meter dan bertingkat. Pada bagian atas air terjun terdapat tingkatan pertama dan air terjun terbagi menjadi dua sebelah kanan dan kiri. Pada bagian kanan air terjun lebih deras dibanding sebelahnya. Dari tingkat pertama air jatuh setinggi 10 meter dan membentuk danau kecil lalu jatuh pada tingkatan ketiga dengan tinggi sekitar 3 meter dan terus mengalir turun membentuk banyak tingkatan dan berkelok sampai dengan hamparan di muara sungai.
Jikalau dari hamparan muara sungai sampai dengan air terjun Gimo dibersihkan semua ranting-ranting di sisi kanan dan kiri sungai maka akan terlihat jelas betapa indah dan menajubkan pemandangannya. Lalu di sebelah sisi kanan dan sisi kiri badan sungai di buat jalan setapak menuju air terjun tentu akan menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan dengan suara gemericik air, burung dan hewan lainnya. Air mengalir berkelok dan bertingkat dengan warna air yang putih bersih bak kapas tanpa adanya pencemaran. Panorama alam nan menyejukkan hati dan pikiran.
Pemandangan alam seperti ini mengingatkan aku pada kunjunganku ke Dunn River Falls di Jamaika beberapa tahun lalu. Dunn River Falls terletak di Jamaika sebuah negara di Caribean Amerika telah menjadi sebuah destinasi wisata internasional dan dikunjungi oleh turis dari berbagai negara di benua Amerika dan Eropa karena keindahan aliran sungai dan alamnya yang telah dikelola secara profesional. Tidak mustahil dan tak menutup kemungkinan Air Terjun Gimo, Hamparan dan Air Terjun Tangge di Desa Pelajaran akan menjadi destinasi wisata yang tak kalah dengan Dunn River Falls atau destinasi wisata lainnya. Apalagi di area ini masih sangat alami, masih terdapat fauna seperti berbagai burung, kera, kijang, rusa, babi dan beruang madu serta tumbuh jenis bunga tertinggi di dunia yaitu bunga Amorphophallus Titanum dan Amorphophallus Paneoniifolius atau masyarakat setempat menyebut bunga bangkai atau kibut.
Selain itu Desa Pelajaran juga memiliki rumah adat atau disebut Rumah Baghi dengan ukiran pada dinding dan tiang rumah nan menakjubkan. Rumah Baghi ini telah berusia ratusan tahun dan masih berdiri dengan kokoh karena rumah berbahan baku kayu ini memakai kayu dengan kwalitas utama.
Dengan segala potensi yang ada, dari beberapa air terjun nan indah, tebat atau danau, perkebunan kopi, lada, coklat, durian, cempedak, bunga tertinggi di dunia, rumah adat dan masyarakat yang ramah maka suatu saat desa Pelajaran akan menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Lahat.
Dari Desa Pelajaran juga dapat menikmati indahnya Gunung Dempo dan Bukit Barisan. Daerah ini disebut juga daerah Impit Bukit karena letaknya diantara Gunung Dempo di sebelah Selatan dan Bukit Barisan di sebelah Utara. Desa Pelajaran yang berjarak hanya 7 km dari Kota Pagaralam akan menjadi daerah pendukung bagi perkembangan pariwisata Kota Pagaralam yang telah dicanangkan menjadi tujuan wisata propinsi Sumatera Selatan dan juga menjadi Kawsan Strategi Pariwisata Nasional sedang kabupaten Lahat telah ditetapkan sebagai  Kawsan Strategi Pariwisata Propinsi bersama 4 kabupaten/kota lainnya di Sumatera Selatan.
Hal ini akan terwujud bilamana Kepala Desa, Perangkat Desa, Karang Taruna dan masyarakat Desa Pelajaran bersama-sama bergotong royong membangun desa mereka dengan di bantu Pemerintah Kabupaten Lahat, DPRD dan semua komponen masyarakat Lahat.
Semoga harapan untuk mewujudkan Desa Pelajaran menjadi destinasi wisata akan terwujud guna meningkatkan taraf hidup masyarakat yang adil dan makmur.

Rabu, 14 Desember 2016

TOKOH PENGGERAK KEBUDAYAAN DAN KEPARIWISATAAN SUMSEL


Penghargaan kedua di tahun 2016 di raih oleh ketua Panoramic of Lahat Mario Andramartik. Penghargaan pertama adalah sebagai Tokoh Inspirasi Sumsel 2016 pada 7 Oktober 2016 dan penghargaan kedua sebagai Tokoh Penggerak Kebudayaan dan Kepariwisataan Sumsel pada 3 Desember 2016. Selain itu Mario Andramartik juga ada di sosok harian Kompas tanggal 12 November 2016.
Apa yang telah di raih oleh Mario tidak lain karena semangatnya dalam pengembangan kebudayaan dan kepariwisataan khususnya di Kabupaten Lahat. Selama ini Mario bersama team Panoramic of Lahat mendata segala potensi budaya dan wisata yang ada di Lahat dan Sumsel. Berkat kerja keras dan semangat yang tinggi pada tahun 2012 Panoramic of Lahat mendapat penghargaan dari MURI sebagai Kolektor Data Megalit Terbanyak se Indonesia. Dan tahun ini Panoramic of Lahat telah mendaftarkan Kabupaten Lahat sebagai pemilik air terjun terbanyak se Indonesia. Saat ini Panoramic of Lahat telah mendata sebanyak 126 air terjun di Kabupaten Lahat dan di klaim sebagai air terjun terbanyak di Indonesia dan mungkin terbanyak di dunia.
Wajar bila seorang Mario Andramartik selaku ketua Panoramic of Lahat mendapat beberapa penghargaan karena kepeduliannya. Selain itu Mario dan team Panoramic of Lahat juga menjadi penggagas terwujudnya taman di tepi sungai Lematang yang terletak dekat bendungan air baku  di desa Suka Negara kecamatan Kota Lahat yang saat ini telah menjadi salah satu lokasi yang ramai di kunjungi masyarakat Lahat terutama di sore hari. Taman ini terwujud berkat dukungan CSR PT.Muara Alam Sejahtera dan Bupati Lahat.
Tidak sampai di situ team Panoramic of Lahat tahun depan telah menggagas lokasi lain untuk dijadikan taman dan spot photogenic. Maka Panoramic of Lahat tidak pernah berhenti untuk memberikan inovasi dan kreasi demi pembangunan kebudayaan dan pariwisata di Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan.