Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Kamis, 11 Mei 2017

BUMI BUKAN HANYA UNTUK HARI INI


Ketika kita berada di Kebun Raya Bogor betapa kita merasakan segarnya udara. Sejauh mata memandang hamparan rumput  dan pohon-pohon bahkan banyak pohon yang telah berusia ratusan tahun.

Di beberapa kota seperti Bandung dan Lahat dimana berdiri dengan kokoh pohon-pohon mahoni dan trembesi yang berumur ratusan tahun yang ditanam di masa Belanda. Bandung dan Lahat merupakan 2 kota di Indonesia yang masih banyak menyisakan pohon-pohon mahoni dan trembesi berukuran raksasa. Ketika kita berada di jalan Cipaganti, Bandung atau jalan Sai Sohar, Lahat terasa betapa rindangnya kawasan ini.

Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat mencapai ukuran diameter 10 cm atau lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 meter di atas permukaan tanah. Kita sangat membutuhkan pohon dalam berbagai hal seperti pohon mengeluarkan O2 untuk kita bernafas, untuk kita berteduh ketika panas atau hujan, untuk menyimpang air tanah, untuk mencegah longsor dan manfaat lainnya.  Sebagai contoh sebuah pohon trembesi mampu menyerap 28 ton Co2 pertahunnya, pohon trembesi yang ditanam di lahan satu hektar dapat mengikat 0,6 ton O2 (Oksigen) perhari. Pohon ini unggul menanggulangi banjir , mampu menyimpan 900 meter kubik air juga menyalurkan 4.000 liter air perhari.  Selain sebagai tanaman penghijauan, akar Trembesi dapat digunakan sebagai obat tambahan saat mandi air hangat untuk mencegah kanker. Ekstrak daun trembesi dapat menghambat pertumbuhan mikrobakterium Tuberculosis yang dapat menyebabkan sakit perut. Trembesi juga dapat digunakan sebagai obat flu, sakit kepala dan penyakit usus.

Kita harus peduli dengan pohon karena berdasarkan survey di seluruh hutan di dunia, area pohon seluas 36 lapangan sepak bola hancur setiap menitnya. Dari udara yang kita hirup sampai kertas untuk kita menulis, sebuah masa depan yang cerah bergantung pada hutan kita. Beberapa alasan mengapa kita perlu peduli dengan pohon, sekarang untuk perubahan yang lebih baik!

1. Kita butuh pohon untuk bernapas
Kita bisa berada dalam masalah besar tanpa adanya pohon kita. Pohon mengubah karbondioksida dari atmosfir dan melepas oksigen melalui sebuah proses yang disebut fotosintesis. Pada dasarnya, seluruh makhluk hidup di bumi membutuhkan oksigen untuk bernapas dan hutan menjalankan sebuah peran yang sangat penting dalam siklus oksigen global yang kompleks. Deforestasi dan degradasi hutan menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara kita, dan berkontribusi hingga 15% dari emisi gas rumah kaca global.

2. Pohon mengatur iklim kita dan membantu memerangi perubahan iklim
Pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat. Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca. Perubahan iklim akan meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrim. Melindungi hutan kita dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa.

3. Pohon menghasilkan air
Pohon merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75% air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses. Air yang terkandung dalam udara bergerak ke dalam dan jatuh yang sebagai hujan, yang akan menjaga perkembangan tumbuhan dan pertumbuhan pohon. Tanpa proses ini, daerah-daerah yang luas termasuk kota dan lahan pertanian akan jauh lebih kering. Hutan juga membantu mengurangi resiko banjir dengan memperlambat laju air hujan yang mengalir dari pegunungan ke sungai, membantu tanah menyerap air dan melepaskannya perlahan ke dalam suatu tempat penyimpanan. Dengan proses ini pula, pohon dapat membantu meningkatkan kualitas air dan mengurangi erosi tanah. Manfaat-manfaat ini menjelaskan bahwa pohon dan hutan dapat membantu kita untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, dan bukan hanya mengurangi besarnya perubahan iklim.

4. Manusia dan hewan bergantung pada hutan
Hutan adalah rumah bagi lebih dari setengah spesies tumbuhan dan hewan di dunia dan hutan juga turut mempertahankan mata pencaharian lebih dari 1 milyar orang—60 juta dari mereka adalah pribumi dan masyarakat adat, dan hampir dari seluruhnya bergantung pada hutan. Degradasi hutan memiliki dampak langsung pada jutaan keluarga di seluruh dunia, terkait dengan keseimbangan ekosistem hutan hujan yang ada. Sebagai contoh, petani kecil yang mengandalkan spesies-spesies tertentu dari serangga dan burung yang tinggal di sekitar hutan hujan untuk datang dan menyerbuki tanaman mereka.

5. Kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah sama tanpa pohon
Anda tidak harus tinggal di dekat hutan untuk memiliki hutan dalam hidup Anda. Pohon memungkinkan kita untuk menghasilkan produk-produk penting yang kita gunakan dan rasakan manfaatnya di kehidupan kita sehari-hari—dari balok kayu yang menjadi atap dimana Anda bernaung, sampai dengan halaman kertas yang menjadi bahan dasar majalah favorit Anda. Selain kayu, hutan juga menjadi tempat bernaung tanaman hidup yang dapat memberikan kita seperempat obat yang ada di dunia. Menurut Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, dari 3.000 tanaman yang teridentifikasi aktif terhadap sel kanker, 70%-nya berasal dari hutan hujan.

Dari uraian di atas terlihat betapa pentingnya pohon bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Tetapi sangat disayangnya masih banyak terjadi penebangan pohon di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Di Indonesia sendiri penebangan pohon terjadi di banyak daerah, hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat dan kurang atau belum adanya aturan dari pemerintah yang mengatur secara detail tentang menebang pohon.

Pemerintah Indonesia telah mengatur tentang hutan akan tetapi tentang pohon yang berada di kota-kota di atur sendiri oleh daerah yang dituangkan dalam Peraturan Daerah. Ada beberapa daerah yang telah membuat perda tentang menebang pohon seperti Propinsi DKI Jakarta, Kota Surabaya, Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Berau. Sedang di daerah lain penebangan pohon di kawasan kota masih terjadi dan membuat kota menjadi panas karena kurangnya ruang terbuka hijau dan minimnya pohon-pohon.

Sudah seharusnya semua daerah mengatur tentang penebangan pohon dengan membuat Peraturan Daerah tentang Menebang Pohon. Dalam perda tersebut harus jelas kententuan dan sangsi menebang pohon misalnya siapapun baik masyarakat maupun pemerintah yang baru membuka lahan dan menebang pohon maka harus mengganti sejumlah pohon yang ditebang walaupun pohon tersebut milik pribadi dan di lahan sendiri. Karena satu pohon yang ditebang efeknya akan dirasakan oleh daerah di sekelilingnya.

Dengan adanya peraturan daerah di setiap daerah di Indonesia maka setiap sudut desa dan kota di Indonesia akan hijau dan rindang.  Pengaturan dalam Peraturan Daerah  adalah untuk melindungi dan melestarikan keberadaan pohon yang dimiliki Pemerintah Daerah yang berfungsi untuk menjamin keseimbangan ekosistem daerah serta dapat meningkatkan nilai estetika daerah. Sepanjang jalan desa, perumahan dan jalan perkotaan harus ditanam pohon penghijauan. Pohon di tepi jalan dapat berfungsi sebagai peneduh, pencegah erosi, penyerap polusi udara, pemecah angin, pembatas pandang, estetika dan resapan.
Mari menanam pohon, hijaukan bumi kita, bumi bukan hanya untuk hari ini. (Mario Andramartik).

Rabu, 10 Mei 2017

MEGALITIK PASEMAH


Kata "kebudayaan berasal dari (bahasa Sanskerta) yaitu "buddayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata "budhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai "hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal".
Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.
Perkembangan kebudayaan masyarakat awal Indonesia berdasarkan pembagian masa adalah:
1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan.
Ciri-ciri manusia pendukungnya:
• Hidupnya tergantung pada alam
• Tinggalnya di gua-gua
• Berpindah-pindah tempat/nomaden
• Dalam mencari makan, mereka melakukan kegiatan berburu
• Membuat alat bantu sederahana dari batu dan tulang
• Membuat tulisan gores pada dinding gua untuk mewariskan pengalaman dan pengetahuannya
• Percaya pada kekuatan magis
• Mulai mengenal cara penguburan mayat
• Mulai menggunakan warna-warna dalam benda hasil budayanya.
2. Masa bercocok tanam
Ciri-ciri manusia pendukungnya yaitu :
a. Hidup berkelompok
b. Mulai membuka hutan untuk digunakan sebagai ladang dan tempat tinggal
c. Memlihara hewan ternak
d. Tetap menggunakan cara berburu
e. Mulai berkelompok dalam sebuah perkampungan namun masih sering berpindah-pindah
f. Populasi penduduk meningkat
g. Mulai bekerja sama dengan manusia lain
h. Muncul mutilasi bagian tubuh.
3. Masa perundagian (masa pengolahan logam)
Ciri-ciri manusia pendukungnya yaitu :
a. Mulai mendirikan rumah sebagai tempat berteduh dengan begotong royong
b. Bertani sudah dilakukan sebagai mata pencaharian
c. Mulai membudidayakan hewan atau tanaman tertentu
d. Mulai menetap dalam waktu yang cukup lama
e. Muncul ikatan sosial antara masyarakat dan keluarga
f. Muncul aktifitas lain untuk mengisi waktu di sela-sela kegiatan bertani
g. Mulai muncul sistem ekonomi barter
h. Muncul hirarki kepemimpinan
Kebudayaan awal Indonesia seperti tersebut di atas peninggalannya berupa megalitik ditemukan terbanyak se Indonesia di kawasan Pasemah/Besemah (Lahat,Pagaralam & Empat Lawang). Akan tetapi peninggalan awal kebudayaan Indonesia tersebut belum mendapat tempat yang semestinya seperti masih banyak masyarakat yang belum tahu dan mengenalnya juga pemerintah daerah belum menetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten/Kota sesuai dengan UU Cagar Budaya No.11 thn 2010.
Seharusnya Pemerintah Daerah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten/Kota lalu Bupati/Walikota menetapkan menjadi Cagar Budaya Kabupaten/Kota kemudian dapat ditingkatkan menjadi Cagar Budaya Propinsi terus menjadi Cagar Budaya Nasional dan terakhir dapat menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO.
Salam Lestari Budaya Indonesia.(Mario Andramartik)

Rabu, 03 Mei 2017

Lahat Berpotensi Miliki Spot Paralayang Terbaik di Indonesia


Satu lagi potensi besar yang dimiliki Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan di sektor olahraga dan pariwisata. Olahraga yang potensial untuk dikembangkan adalah paralayang dengan memanfaatkan keindahan Bukit Besar di kawasan Merapi selatan.

Aries Pribaya, dari tim Sang Aero Activities, Jawa Barat mengatakan, setelah terbang perdana dia melihat Lahat memiliki potensi pengembangan olahraga dirgantara, khususnya paralayang di kawasan Bukit Besar. Bahkan dari pengalamannya menggeluti olahraga ini, kabupaten berjuluk Seganti Setungguan bisa menjadi spot paralayang terbaik se-Indonesia, jika dikelola dengan profesional dan baik.

”Hebat. Saya tidak menyangka jika potensi yang ada sangat baik dan malahan bisa dikatakan salah satu yang terbaik se-Indonesia. Sangat sayang jika hal ini tak dimaksimalkan,” kata Aries yang datang bersama tim ekpedisi acara Let’s Go MNCTV di Lahat, Senin 1 Mei 2017.

Menurut Aries, kawasan Bukit Besar merupakan salah satu spot terbaik dikarenakan banyak alasan, di antaranya memiliki lokasi landas pacu yang luas dengan kekuatan angin yang memadai. ”Landas pacunya memang sudah terbuka alami, tanpa harus lagi membuka atau merusak hal lainnya dan ini merupakan satu satunya se-Indonesia,” ujarnya.

Selain itu sambutan masyarakat setempat dan perangkat pemerintahan setempat juga sangat mendukung serta antusias. ”Tinggal bagaimana proses pembangunan fasilitas penunjangnya saja, seperti akses menuju lokasi yang masih ekstrem dan mendaki terjal,” beber Aries lagi, seraya memberikan testimoni Bukit Besar mendapat nilai 8.

Jajang, perwakilan MNCTV mengatakan, selama di Lahat selain mengadakan syuting untuk program televisi pihaknya juga memiliki satu misi yaitu menggali potensi potensi baru di setiap kawasan yang dikunjunginya. Menurutnya, potensi paralayang di Lahat begitu besar dan sangat mumpuni untuk dikembangkan lebih baik ke depannya oleh pihak pihak terkait.

”Kami sangat siap mendukung Pemkab Lahat mempromosikan kawasan wisata dan alamnya ke depan. Kami yakin Lahat memiliki sangat banyak potensi yang masih belum tergali, terolah dengan baik dan profesional,” katanya. (Imam Rustandi)

Senin, 24 April 2017

Jelajah Negeri Mengenal Alam "PESONA DI UJUNG LAHAT"


Awal Februari 2017 lalu aku berkunjung ke air terjun Lawang Agung. Aku melihat beberapa perubahan yang sebelumnya tak terlihat. Saat ini telah ada air terjun baru di kawasan air terjun Lawang Agung yaitu air terjun Jernih. Sebenarnya air terjun ini sudah ada sejak lama akan tetapi tertutup semak belukar. Dan baru akhir tahun 2016 ini di buka. Pembukaan air terjun ini tak lepas dari perhatian Dahnial sang Camat Muara Payang dan Wanhar anggota DPRD Lahat yang sangat getol dalam pengembangan pariwisata di kecamatan Muara Payang juga peran serta pemuda dan masyarakat desa Lawang Agung.
Air terjun Jernih terletak di jalan masuk menuju air terjun Lawang Agung atau sekitar 200 meter dari air terjun Lawang Agung yang telah dikenal sebelumnya atau 200 meter dari jalan lintas Pagaralam - Bengkulu. Tepatnya di sebelah kiri dan kanan jalan masuk ke air terjun Lawang Agung lalu jatuh ke sungai Lintang. Air terjun Jernih sesuai dengan namanya berair jernih yang bersumber dari sumber mata air.
Di area sumber mata air terjun Jernih terdapat tumbuhan selada air yang menghampar memenuhi kolam sehingga kolam berwarna hijau bah permadani. Selada air ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang tidak banyak ditemukan di daerah lain.
Jadi saat terakhir kesini awal Februari lalu aku melihat 2 air terjun dan selada air akan tetapi 2 bulan kemudian di kawasan ini aku menemukan hal baru lagi yaitu platform yang dibuat di salah satu pohon untuk spot berphoto dengan background air terjun Jernih atau jembatan gantung sungai Lintang.
Kawasan air terjun Lawang Agung kini sudah jauh lebih selain air terjun Lawang Agung  ada juga air terjun Jernih yang terbagi menjadi 3 tingkatan, kolam selada air, jembatan gantung, sungai Lintang,platform untuk berphoto dan bilik batu yang berlokasi di atas air terjun Lawang Agung juga sebuah pondok beratap seng yang dapat digunakan untuk berteduh ketika hujan.
Dengan segala yang telah dimiliki kawasan air terjun Lawang Agung sudah cukup memadai untuk pengunjung yang saat ini masih didominasi kawula muda. Agar lebih baik lagi maka kawasan air terjun ini perlu dibentuk pengurus yang mengelolahnya seperti kelompok sadar wisata (pokdarwis). Dengan adanya pokdarwis ini maka pengelolahan air terjun ini akan lebih maksimal dan baik.
Beberapa fasilitas yang harus diperhatikan dan disiapkan seperti area parkir yang memadai dan aman sehingga pengunjung tidak takut meninggalkan kendaraannya ketika sedang menikmati keindahan air terjun. Jalan menuju lokasi air terjun yang relatif sangat dekat dan tidak terjal dapat dibuat lebih baik dan nyaman, jalan ini jangan dilintasi kendaraan apapun, tidak berdebu ketika dimusin kering dan tidak becek ketika di musim hujan. Pokdarwis juga harus menyediakan tempat sampah yang cukup agar pengunjung tidak buang sampah sembarang dan turut menjaga kebersihan kawasan air terjun. Toilet juga harus disediakan untuk kenyamanan pengunjung. Pokdarwis agar membuat tanda-tanda pentunjuk arah dimana area parkir, arah ke toilet, arah ke kolam selada air dan tanda lainnya seperti tanda di larang buang sampah sembarangan, tanda di larang berenang di kolam di air terjun Lawang Agung. Dengan tanda-tanda ini akan sangat membantu pengunjung dan menghindari hal-hal yang tak diinginkan seperti pengunjung tenggelam. Agar kawasan air terjun Lawang Agung lebih dikenal luas dan lebih banyak pengunjung yang datang maka pokdarwis dapat membuat promosi berupa baleho di tepi jalan lintas Pagaralam – Bengkulu, promo melalui facebook,instagram dan media sosial lainnya  dengan akun tersendiri. Dengan gencarnya promosi maka dapat meningkatkan jumlah pengunjung yang tentukan akan membesarkan kawasan air terjun.
Pokdarwis harus dapat melayani pengunjung dengan baik sehingga pengunjung akan kembali lagi di lain waktu dan pengunjung akan bercerita pengalaman baiknya kepada orang lain. Hal ini juga menjadi promosi yang terkenal dengan promosi dari mulut ke mulut.
Pokdarwis juga dapat membuat warung atau kedai yang menjual makanan/minuman dan keperluan pengunjung lainnya sehingga dapat juga menjadi sumber pendapatan pokdarwis.
Semoga kawasan air terjun Lawang Agung semakin baik dan menjadi obyek wisata andalan di kawasan ujung kabupaten Lahat yang berbatasan dengan kabupaten Empat Lawang. Hal ini akan terwujud dengan kerja keras dan teamwork dari semua pihak yang terlibat. Peran serta Kepala Desa, Camat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan seluruh masyarakat di kawasan air terjun sangat menentukan kemajuan kawasan air terjun Lawang Agung. (Mario Andramartik)

Sabtu, 11 Maret 2017

Jelajah Negeri Mengenal Alam "CAMBAI NAN MENAWAN"


Pagi nan cerah di awal tahun 2017 mengawali perjalananku untuk jelajah negeri mengenal alam. Tepat pukul 07.30 wib aku meninggalkan rumah menuju ke hotel Grand Zuri Lahat untuk menjemput Chef Jams yang berasal dari Aceh. Pria yang sudah ½ tahun ini bekerja di hotel Grand Zuri Lahat sebagai Executive Chef dan tertarik ketika aku tawarkan untuk ikut aku mengunjungi air terjun dan megalit yang berada di kecamatan Pajar Bulan yang berjarak sekitar 70an km dari Kota Lahat.

Satu setengah jam kemudia kami sudah berada di Kota Pagaralam dan terus menuju kecamatan Pajar Bulan yang berjarak sekitar 3 km dari Kota Pagaralam. Aku stop di desa Sumur dan menghubungi Wanhar anggota DPRD Lahat. Karena beberapa waktu sebelumnya aku telah melakukan komunikasi dengan Wanhar untuk melihat air terjun dan batu megalit di wilayah ini. Hal ini menjadi perjalanan pertamaku jelajah alam Lahat dengan seorang anggota DPRD Lahat dan aku sangat apresiasi atas kesediaannya untuk jelajah alam di daerahnya.
Dari desa Sumur kami melanjutkan perjalanan ke desa Bantunan bersama 8 warga desa Sumur yang menjadi pemandu kami . Jarak antara dua desa ini sekitar 4 km. Dari desa Bantunan inilah kami akan mulai pertualangan yang sebenarnya. Wanhar, Chef Jams dan aku masing-masing di bonceng sepeda motor oleh pemandu kami dengan sepeda motor yang khusus di design untuk melintasi jalan tanah berlumpur yang biasa di pakai petani setiap hari untuk berkebun. Sepeda motor yang telah diganti ban trail atau ban yang di balut dengan rantai melaju dari desa Bantunan menyusuri jalan aspal hasil swadaya masyarakat sejauh 4 km lalu masuk ke jalan tanah merah setelah menyeberangi jembatan sungai Lukok.
Dari sini jalan tanah yang pernah di doser beberapa tahun lalu membentuk jalur-jalur parit lintasan air ketika hujan dan kami mencari jalan yang bisa di lalui oleh sepeda motor. Kebetulan ketika kami kesini belum turun hujan maka jalan tanah ini masih sangat bersahabat tetapi ketika di musim hujan maka akan sangat sulit melintasi jalan ini. Jalan ini dapat menghubungkan desa Bantunan kecamatan Pajar Bulan dengan desa Sinjar Bulan kecamatan Gumay Ulu. Panjang jalan ini sekitar 18 km dan sekitar 4 km yang telah di aspal sedang sisanya masih jalan tanah dan belum ada pengerasan dan pengaspalan. Di jalan ini ada sekitar 9 talang (dusun kecil di kebun). Kalau saja jalan ini di buka sebagai  jalan lintas dengan lebar min 6 meter maka akan menghubungkan kecamatan Gumay Ulu dan kecamatan Pajar Bulan tanpa harus masuk ke Kota Pagaralam seperti yang terjadi selama ini.  Karena selama ini  terkesan bahwa kabupaten Lahat terbelah oleh kota Pagaralam. Selain itu jalan ini juga akan menjadi jalur ekonomi dan pengembangan daerah kedua kecamatan dan kabupaten Lahat secara umum.
Dari Talang Tengah yang terdiri dari beberapa pondok kami belok kanan menyusuri jalan kebun dengan lebar hanya 1,5 meter dan tak jarang harus merunduk untuk menghindari ranting pohon kopi. Yach…. Jalan menuju ke air terjun Cambai merupakan jalan kebun. Awalnya jalan sedikit menurun akan tetapi selanjutnya jalan makin terjal dan terpaksa sepeda motor kami parkir di kebun kopi. Kemudian kami menyusuri jalan kebun dan sering harus merunduk menghindari pohon kopi yang sudah mulai berbuah dan akan panen 3 bulan ke depan.
Lalu jalan semakin terjal setelah tidak ada lagi pohon kopi dan kami harus menuruni tebing terjal dengan kemiringan hampir 70 derajat. Kami harus berpegang dengan ranting-ranting pohon. Sungguh suatu adventure yang menguji adrenalin akan tetapi setelah turun sejauh 20 meter terlihat sudah keindahan air terjun Cambai yang mempunyai air nan jernih dengan ketinggian sekitar 40 meter yang membentuk danau kecil di bagian bawahnya dan mengalir menuju sungai Lukok yang menjarak sekitar 100 meter membentuk muara sungai. Gemericik air dan keindahan air terjun Cambai telah mengobati rasa lelah dan tegang karena jalan yang terjal.
Keindahan air terjun Cambai yang terletak di desa Sumur Lama kecamatan Pajar Bulan kabupaten Lahat terlihat lebih indah dari muara sungai Lukok. Dan dalam catatan kami Panoramic of Lahat (Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Lahat) air terjun Cambai sebagai air terjun ke 129 yang ada di kabupaten Lahat dan tak salah kalau kabupaten Lahat menasbihkan diri sebagai Bumi Seratus Air Terjun selain sebagai Bumi Seribu Megalit.
Dari muara sungai Lukok lalu kami menyusuri sungai Lukok menuju ke air terjun Penggantungan yang berada di tepi jurang dan airnya jatuh ke sungai Lukok. Dari awal penelusuran sungai ini kami harus meloncat dari satu batu ke batu lainnya dan tidak jarang harus masuk ke air sungai dan menyeberanginya. Perjalanan dari muara sungai Lukok ke air terjun Penggantungan sekitar 1 km akan tetapi perjalanan ini bukan pejalanan biasa, penuh dengan tantangan dan petualangan. Aku mendapat pengalaman minum air dari pohon sepit yang merampat di tepi sungai. Cara minumnya dengan memotong ranting pohon dan dari potongannya akan mengalir air dan langsung di minum. Rasanya seperti air putih biasa dan khasiatnya selain melepas dahaga juga dapat mengobati rematik.
Setelah menempuh 1 km perjalanan yang melelahkan dan penuh tantangan akhirnya kami tiba di air terjun Penggantungan. Tapi sayang air terjun Penggantungan debit airnya sangat kecil karena sudah lama tidak turun hujan dan kalau saja sedang musim hujan tentu pemandangan air terjun ini sangat menakjubkan. Air terjun ini mempunyai ketinggian sekitar 70an meter. Dengan ditemukannya air terjun Penggantungan maka kami catat di Panoramic of Lahat sebagai air terjun ke 130 di kabupaten Lahat. Disini kami makan siang dengan nasi bungkus yang telah kami bawa. Kami makan dengan lahap sambil duduk di bebatuan sungai.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sungai Lukok menuju muara sungai Selangis. Medan yang kami lalui tak jauh beda dengan sebelumnya. Setiba di muara sungai Selangis kami lanjutnya dengan mendaki dan menyusuri hutan bambu. Jalan menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat sangat menguras tenaga. Kami beberapa kali harus berhenti melepas lelah. Terlihat hutan ini masih sangat jarang dilalui manusia dan nyaris belum dijamah manusia. Kami harus menembus semak belukar dan membuka jalan dengan parang.
Setengah jam kemudian kami berada di sebuah sungai tepat di atas air terjun Penggantungan lalu kami menyusuri sungai ini kearah atas sejauh 500 meter dan kami temukan satu lagi air terjun dan kami sebut sebagai air terjun Penggantungan Atas. Dan kami catatkan sebagai air terjun ke 131 di kabupaten Lahat. Air terjun inipun mempunyai debit air yang kecil namum sangat indah dengan ketinggian sekitar 40 meter. Bebatuan di air terjun dan sungainya tertutup lumut hijau dan terkesan jarang dikunjungi manusia. Setelah mengambil gambar dan video kamipun bergegas kembali kearah dimana kami memarkirkan sepeda motor.
Setelah berjalan menyusuri hutan selama 30 menit dan tibalah kami di kebun kopi, lalu kami melanjutkan perjalanan pulang dengan sepeda motor menuju talang terdekat dan beristirahat sebentar. Di Talang ini yang terdiri dari sekitar 8 pondok, kami disuguhi kopi hangat, pisang dan sirsak. Wooouuuu…… betapa nikmatnya suasana ini setelah melewati perjuangan panjang dan melelahkan  menembus hutan, menyusuri sungai dan mendaki bukit. Suatu petuangan yang sangat berkesan.
Awalnya kamipun akan melihat megalit akan tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan maka kami kembali ke kota Lahat dengan membawa suatu kenangan yang tak pernah terlupakan berpetuangan di hutan Pajar Bulan bersama anggota DPRD Lahat. Semoga lain waktu kita dapat melanjutkan petuangan seperti ini Jelajah Negeri Mengenal Alam dan Budaya. (Mario Andramartik).