Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Jumat, 12 Agustus 2016

PESONA 7 AIR TERJUN

 
Jam di tanganku sudah menunjukkan jam 12.30 siang, teh manis yang disuguhkan oleh Eva Hartoni Kades Karang Dalam sudah hampir habis, tapi Budi dan Haris belum juga datang. Padahal sudah sekitar 30 menit lalu mereka pergi untuk membeli nasi bungkus sebagai bekal kami di air terjun nanti.

Lima belas menit kemudian mereka datang dengan membawa tas plastik berisi nasi bungkus. Segera aku siapkan peralatan kameraku dan perlengkapan lainnya. Aku pakai sandal gunung, Kades tak pakai alas kaki, Anggut hanya memakai sandal dan Ishak Camat Pulau Pinang memakai sepatu boot begitu juga dengan Budi dan Haris.


Tepat jam 12.50 kami bergerak dari rumah Kades Karang Dalam. Kami menyusuri jalan kebun dari sebelah Selatan desa. Setelah menyeberangi sungai kecil dan 5 menit kemudian sampailah kami di lapangan rumput pinggir desa. Dari sini kami harus menyeberangi sungai kecil tanpa jembatan lalu berjalan menanjak. Jalan yang menanjak ini telah disemen pada tahun 1986 tapi saat ini kondisinya sudah banyak yang rusak dan di musin hujan jalan semen ini licin. Seratus meter kemudian kami harus melalui jalanan tanah yang becek.


Perjalanan ke komplek air terjun Karang Dalam sangat mengasikkan walau kondisi jalan kurang memadai. Perkebunan kopi dengan buahnya yang sudah mulai memerah menandakan hampir matang dan akan siap dipanen, menyegarkan pikiran yang penat. Dan juga suara burung-burung menemani perjalanan kami ke air terjun.


Setelah menempuh perjalanan 50 menit dan kamipun sampai di air terjun Pandak. Namun untuk turun ke air terjun ini kami harus menuruni tebing terjal dengan kemiringan 90 derajat, maka satu persatu kami harus bergelantungan di akar-akar pohon. Sedang jalan turun yang selama ini digunakan tak tanpa lagi.  


Air terjun Pandak sesuai dengan namanya pandak yang berarti pendek dan hanya mempunyai ketinggian 5 mtr. Walaupun pendek air terjun ini cukup indah. Ketika kami berdiri di atas air terjun Pandak  dan menghadap arah Barat maka dengan sangat jelas terlihat air terjun Bidadari. Jarak antara kedua air terjun hanya sekitar 50 mtr. Dan kamipun berjalan menyusuri sungai Asam ke air terjun Bidadari yang sebelumnya pernah dijadikan syuting film Si Pahit Lidah. Air terjun ini awalnya bernama air terjun Lebah Lawang dan setelah syuting film dimana ada adegan para bidadari berenang di lubuk air terjun ini maka sejak saat itu air terjun ini disebut air terjun Bidadari.


Sejenak kami menikmati air terjun Bidadari dan perut kami sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Kemudian segera kami melahap nasi bungkus yang telah dibeli oleh Budi dan Haris. Kami makan sangat lahapnya ditepi sungai Asam yang berair jernih dengan pemandangan air terjun Bidadari nan elok dan menawan. Tak salah kalau film Si Pahit Lidah mengambil lokasi syuting di air terjun ini.


Setelah puas santap siang dan menikmati keindahan air terjun begitu juga kameraku tak henti-hentinya merekam keindahan air terjun ini. Kamipun berbalik ke air terjun Pandak dan menaiki tebing terjal yang tadi kami lalui, karena tak ada jalan lain.


Kami lalu menyusuri sungai Asam ke arah ilir untuk melihat air terjun Ujan Panas. Perjalanan dari air terjun Pandak ke air terjun Ujan Panas sekitar 10 menit. Kami berhenti di atas air tejun Ujang Panas lalu menuruni tebing terjal dengan kemiringan 90 derajat. Aku dipandu Eva Hartoni untuk menuruni tebing terjal ini. Kami harus bergelantungan di akar-akar pohon untuk bisa sampai di bagian bawah air terjun karena tidak ada jalur lain.  Aku tidak sarankan lewat jalur ini kalau yang bernyali kecil karena sangat beresiko dan berbahaya apalagi bagi wisatawan anak-anak dan wanita.


Air terjun Ujan Panas mempunyai ketinggian 20 mtr dan merupakan air terjun kedua dari arah ilir atau dari arah bawah. Segera kubuka tas kameraku dan kuletakkan diatas tripod. Dan entah berapa kali kameraku menjepret keindahan alam karunia Allah yang diberikan pada masyarakat Karang Dalam. Air terjun ini disebut air terjun Ujan Panas karena di air terjun ini kita akan sering melihat pelangi seperti ketika hujan di siang hari dan ada pelangi.


Sudah 3 air terjun yang telah kami telusuri di aliran sungai Asam dan selanjutnya kami harus menaklukkan air terjun ke-4 yaitu air terjun Sumbing. Disebut air terjun Sumbing karena pada bagian sisinya terdapat celah aliran seperti sumbing.  Celah ini menurut cerita masyarakat setempat merupakan jalan ular naga yang melintasi sungai dan tak jauh dari air terjun ini ke arah ilir terdapat sebuah lubang yang disinyalir tempat berdiamnya ular. Air terjun Sumbing merupakan air terjun pertama dari arah ilir atau air terjun terdekat dari desa yang mempunyai ketinggian 10 mtr.

Jarak air terjun Ujan Panas dengan air terjun Sumbing sekitar 100 mtr. Kami harus menyusuri aliran sungai Asam karena belum ada jalan lain. Sangat beruntung aliran sungai ini tidak dalam dan tidak deras sehingga kami dapat berjalan di atas napal di aliran sungai. Air sungai yang jernih tanpa polusi membuat aku sangat senang menyusuri sungai ini dan tak membuat aku lelah bahkan kegembiraan nan tiada tara yang aku rasakan.

Dari air terjun Sumbing kami kembali ke desa dengan membawa sejuta kenangan indah yang tak terlupakan. Dalam perjalanan kembali ke desa Eva Hartoni bercerita bahwa di atas air terjun Bidadari masih ada 3 air terjun lagi. Akan tetapi hari ini belum dapat dikunjungi mengingat waktu sudah menjelang senja.

Jadi di aliran sungai Asam terdapat 7 air terjun dengan ketinggian, lebar dan keindahan yang berbeda. Dari arah desa atau dari bawah sungai terus ke atas secara berturut-turut air terjun di desa Karang Dalam sebagai berikut yang pertama Air Terjun Sumbing (10 m), kedua Air Terjun Ujan Panas (20 m), ketiga Air terjun Pandak (5 m), keempat Air Terjun Lebah Rawang atau Bidadari (30 m), kelima Air Terjun Terlantang dengan tinggi 15 m dan lebar 15 m (merupakan air terjun terlebar dari ketujuhnya), keenam Air Terjun Sebahak (10 m) dan yang terakhir atau ketujuh Air Terjun Pegadungan dengan tinggi 5 m. Semua air terjun ini mengalir di di satu sungai yaitu sungai Asam yang bermuara ke sungai Lematang.

Sungguh  sangat bersyukur dan bangga sebagai masyarakat Karang Dalam yang mempunyai keindahan alam yang tiada duanya. Dan boleh aku katakan bahwa Karang Dalam akan menjadi kawasan wisata yang diandalkan Kabupaten Lahat dan Sumatra Selatan kelak  kemudian hari.

Selain keindahan ke-7 air terjunnya Karang Dalam juga mempunyai Batu Megalith berupa menhir yang telah berusia 3.000 tahun. Menurut cerita batu ini merupakan cikal bakal desa Karang Dalam yang dibawa dari tanah suci Arab, maka dari itu batu menhir ini disebut juga Batu Haji atau Aji. Dan juga batu menhir ini diyakini ukurannya bertambah dari waktu ke waktu.


Desa Karang Dalam yang berbatasan dengan desa Kuba disebelah Utara, desa Lubuk Sepang di sebelah Selatan, kecamatan Gumay Talang di Barat dan sungai Lematang atau desa Pagar Batu di sebelah Timur juga mempunyai tempat beristirahat dalam perjalanan Lahat - Pagar Alam yang disebut  Jagungan, disini kita bisa melepas lelah dengan duduk santai dan menikmati jagung manis khas Karang Dalam.


Semoga Karang Dalam yang sempat tertidur pulas mulai bangkit untuk mempercantik diri dalam rangka menyambut para tamu yang ingin menikmati keindahan alam Karang Dalam dan keramahan penduduknya.


(By Mario, traveler ke 200 kota wisata dunia).


 


 

Rabu, 10 Agustus 2016

KOTA ADIPURA


Eforia  masyarakat dan pemerintah di beberapa kota penerima penghargaan adipura terlihat semarak dengan arak-arakan terlihat di sepanjang jalan protokol yang dilintasi oleh arak-arakan Piala Adipura. Piala Adipura dibawa oleh Bupati/Walikota bersama unsur  Muspida yang di dampingi  Bujang Gadis yang menambah suasana semakin meriah  walau di bawah terik sang surya. Senyum tawa nada gembira menyebar ke seluruh penjuru Kota menyambut supremasi kota terbersih dan terindah.

Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu. Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu:
-      Kota Metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa)
-      Kota Besar (500.001 – 1.000.000 jiwa)
-      Kota Sedang (100.001 – 500.000 jiwa)
-      Kota Kecil (sampai dengan 100.000 jiwa)

Dalam lima tahun pertama, program adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”. Kriteria Adipura terdiri dari 2 indikator pokok: Indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota dan Indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap. Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang.

Kata adipura dalam kamus bahasa Indonesia berarti penghargaan untuk kota terbersih dan terindah. Maka bila sebuah kota mendapat penghargaan adipura kota tersebut sebuah kota yang bersih dan indah. Akan tetapi pada kenyataanya kota yang mendapat penghargaan adipura masih belum bersih di beberapa sudut kota bahkan masih ditemukan tumpuhan sampah di tepi jalan utama kota ketika penghargaan adipura di arak, maka timbul slogan yang mengatakan kota tersebut dapat penghargaan adipura atau penghargaan adi pura-pura.

Tidak dapat dipungkiri sebuah kota yang telah mendapat penghargaan adipura masih ditemukan seperti cerita di atas. Hal ini harus dijadikan pelajaran berharga agar ke depan bukan hanya kota yang mendapat penghargaan adipura saja yang bersih dan indah akan tetapi semua kota di Indonesia menjadi bersih dan indah sesuai dengan tujuan awal pemberian penghargaan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi bersih dan indah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjadi sebuah kota yang bersih dan indah. Pertama adalah menjaga kebersihan diri pribadi dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan menjaga kebersihan diri pribadi tidak membuang sampah sembarangan dimanapun berada, baik  di rumah, sekolah, kantor, pasar, jalan, pantai, sungai, hutan bahkan mengingatkan semua orang untuk membuang sampah pada tempatnya. Menjaga kebersihan adalah tanggungjawab pribadi.
Kedua menjaga kebersihan rumah. Rumah memang menjadi bagian paling dekat dari kehidupan manusia. Segala rencana serta persiapan hidup untuk masa depan, senantiasa direncanakan di rumah. Dengan rumah yang bersih, kita akan merasa nyaman dan betah untuk berada di rumah. Lingkungan rumah termasuk paling inti dan pertama harus dijaga karena akan mempengaruhi kondisi kebersihan dan kesehatan tubuh kita. Jadi, sudah selayaknya menjaga kebersihan lingkungan rumah menjadi tanggungjawab masing-masing individu. Lingkungan rumah dengan kondisi bersih yang bebas dari timbunan sampah, juga akan terhindar dari bencana seperti banjir pada musim hujan. Salah satu penyebab banjir di berbagai wilayah adalah karena banyaknya sampah yang berserakan sehingga menghambat aliran air. Hal ini merupakan salah satu perilaku buruk seakan sudah menjadi budaya masyarakat lndonesia.
Ketiga menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat kita berada. Dimanapun kita berada kita senantiasa menjaga kebersihan. Kita selalu membuang sampah pada tempatnya, misalnya membuang sampah di tong atau kotak sampah di rumah kita bukan di selokan atau parit. Kita membiasakan diri untuk membuang sampah di kotak sampah yang tersedia di mobil, bis atau kereta api bukan membuangnya kejalanan yang kita lalui. Kita membuang sampah ke dalam tong atau kotak sampah yang tersedia di pasar-pasar dan bukan membuangnya di lantai, jalan dan trotoar.
Upaya yang lain pun dapat dilakukan, tentu dengan kerjasama yang baik antara semua pihak. Bukan hanya terbatas pada individu tapi juga pada masyarakat serta ketegasan pemerintah diikuti kepedulian yang tinggi terhadap masalah sampah. Sebenarnya hal yang menjadikan lingkungan kotor bukan hanya terbatas pada sampah, ada hal lainnya juga. Ada kemungkinan pengaruh penggunaan bahan-bahan untuk kebutuhan hidup dari bahan sintesis ataupun kimiawi dan sebagainya. Hal itu dapat diupayakan penanggulangannya dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali dia pejabat pemerintah ataukah tidak, semua dimunculkan kesadarannya untuk hidup sehat dan bersih. Kerjasama pemerintah dengan masyarakat harus terjalin dengan baik agar tempat pembuangan sampah serta upaya memunculkan kesadaran hidup bersih dan sehat terealisasi secara maksimal.
Peranan pemerintah dan kesadaran masyarakat memegang peranan penting dalam mensosialisasikan larangan membuang sampah sembarangan berikut denda dan hukumannya agar terjadi efek jera bagi pelanggarnya berikut dengan pengawasannya seperti yang di lakukan oleh beberapa negara. Pemerintah memiliki wewenang untuk memberikan denda dan hukuman, pemerintah juga memiliki kewajiban untuk menyediakan tempat – tempat pembuangan sampah yang mudah untuk di akses oleh masyarakat.
Pemerintah tidak dapat hanya sebatas menghimbau mengenai kebersihan lingkungan itu penting. Tapi, peran pemerintah lebih dari itu. Mulai dari memberikan contoh, langsung terjun ke lingkungan masyarakat melalui sosialisasi hidup bersih dan tindakan nyata penyediaan area pembuangan sampah, aturan tentang kebersihan dan sebagainya.
Melalui kerjasama yang baik dan saling mendukung, tentu upaya memunculkan kesadaran budaya hidup sehat dan bersih akan tampak ringan dan mudah diwujudkan dalam waktu singkat. Pengaruh  kehidupan di lingkungan masyarakat dengan kebersihan yang terjagapun akan dapat segera dirasakan secara langsung.
Selain itu, ulasan ini pun juga akan membantu memberikan gambaran mengenai beberapa langkah untuk menciptakan lingkungan dengan kebersihan dan keindahan yang terjaga. Lingkungan  perkotaan yang hijau, bersih dan  indah  serta sistem perhubungan modern menjadi masalah yang mendapat perhatian istimewa pemerintah banyak kota. Hal ini tidak hanya mendatangkan kualitas kehidupan kepada masyarakat di perkotaan melainkan juga berpengaruh sangat besar terhadap perekonomian daerah-nya, khususnya mendatangkan pertumbuhan ekonomi di bidang pariwisata.

Beberapa contoh yang dilakukan  di beberapa kota di dunia seperti di Singapura - negeri yang dinamakan: Negeri  pulau yang paling hijau, bersih, indah di Asia dan termasuk topten kota terbersih di dunia. Di pulau kecil ini yang memiliki penduduk kurang lebih 4 juta jiwa, mereka memiliki aturan ketat tentang kebersihan, sehingga bisa mengontrol semua orang agar tetap menjaga lingkungan. Meskipun menjadi salah satu tempat tersibuk dengan teknologi yang maju, orang yang berkunjung ke sana tidak akan menemukan sampah atau kotoran berserakan. Kegiatan meludah, merokok, dan membuang sampah di mana saja sudah tidak terlihat lagi, karena ada sanksi yang sangat berat bagi para pelanggar yaitu berupa denda 500 dolar Singapura atau Rp 4.5 juta.


Contoh kedua di kota Freiburg, Jerman. Beberapa faktor membuat kota ini sangat bersih seperti, penduduk yang peduli lingkungan, bukit hijau, dan keindahan alam sekitar. Penduduk Freiburg menganggap kota ini layaknya harta berharga yang setiap saat dijaga dan dirawat, tidak heran kota ini sangat bersih. Bahkan penduduk di sana memberikan pendidikan lingkungan bersih kepada anak-anaknya, sehingga ketika mereka tumbuh dewasa, mereka bisa menjaga kebersihan dan peduli lingkungan.


Berikutnya kota Copenhagen, Denmark. Menjadi salah satu pusat kota budaya di Denmark, kota ini tidak kalah bersih dengan kota lainnya di seluruh dunia.         Memiliki lingkungan yang segar, bersih dan sehat merupakan ciri khas kota ini. Warga dan Pemerintah setempat sepakat untuk menempatkan upaya untuk menjaga kota ini agar tetap bersih.


Selanjutnya kota Wellington, Selandia Baru. Kota ini bukan tempat wisata, namun para wisatawan tetap datang ke kota ini agar tidak melewatkan menghirup dan merasakan suasana lingkungan yang bersih. Penduduk di kota ini sangatlah banyak, tetapi kesadaran penduduk di kota ini akan kebersihan lingkungan sangat tinggi, tidak heran membuat kota ini menjadi sangat bersih dan sehat.


Contoh lain alah kota Kobe, Jepang. Negara Jepang terkenal dengan penduduknya yang disiplin dan cerdas, tidak heran banyak kota di Jepang memiliki lingkungan yang sangat bersih salah satunya kota Kobe. Kota ini benar-benar sangat bersih, meskipun disibukkan dengan pekerjaan, penduduk setempat tidak lupa agar tetap menjaga kebersihan.


Kota di benua Afrika, Ifrane, Maroko. Perumahan dan infrastruktur di kota ini dibangun oleh Perancis pada akhir tahun 1920. Ifrane menjadi salah satu kota terbersih dan banyak turis tertarik dengan keindahan kota ini termasuk fotografer yang tertarik akan pemandangan indah yang disediakan di kota ini. Selain itu, Ifrane menawarkan begitu banyak tempat luar biasa untuk para pesepeda, pejalan kaki, trekker dan yang suka berpetualang.


Kota di belahan Eropa bagian Utara, Helsinki, Finlandia. Kota ini merupakan ibu kota sekaligus kota terbesar di Finlandia. Jutaan orang berkunjung ke kota ini setiap tahunnya dengan berbagai alasan. Bangunan yang tersusun rapi dan pemandangan indah menjadi faktor utama banyak orang yang berkunjung ke kota ini. Bahkan Pemerintah setempat rela mengeluarkan banyak uang agar kota ini tetap bersih dan sehat.


Honolulu, Hawaii, Amerika.  Kota ini terletak di Pulau Oahu yang merupakan salah satu tujuan wisata yang paling terkenal di dunia. Selain tempat wisata, kota ini banyak tumbuhan hijau, bunga-bunga yang indah dan pemandangan yang spektakuler dan menjadikan kota ini sebagi kota terbersih di dunia. Tidak heran banyak wisatawan datang ke kota ini agar mendapatkan suasana sehat sambil bersantai.



Kota lain di Amerika, Minneapolis. Kota ini merupakan kota terbersih nomor 1 di Amerika Serikat oleh majalah Forbes. Penduduk kota ini bisa bernafas lega tanpa ada polusi dan membuat mereka agar tetap sehat. Di kota ini para penduduk dilarang merokok di tempat umum dan sudah menambahkan jalur sepeda. Selain itu banyak taman hijau yang bisa dijadikan tempat bersantai.



Contoh kota terbersih dan terindah terakhir adalah Calgary, Kanada. Terletak di antara Gunung Rocky dan padang rumput, kota ini dipenuhi dengan pohon-pohon hijau dan lingkungan yang bersih. Sungai yang mengalir di kota ini juga tidak tercemar. Warga kota ini memainkan peran penting untuk menjaga kebersihan kota ini. Tidak heran Calgary menjadi kota terbersih di dunia.

Dari beberapa contoh kota di atas terlihat peran pemerintah dan masyarakat sangat memainkan peranan terpenting untuk menjadikan sebuah kota menjadi kota yang bersih, hijau, indah dan bebas polusi. Hal ini  karena ada tekat yang tidak kecil dari pemerintah melalui kebijakan-kebijakan manajemen, pengawasan lingkungan dan menganggap pelestarian lingkungan ekologi sebagai tugas strategis dalam kebijakan pengembangan sosial-ekonomi. Pemerintah  telah  mengambil  banyak langkah untuk  mengawasi dan melestarikan lingkungan, diantaranya peraturan  tentang lingkungan adalah instrumen yang paling  efektif untuk menjamin kebersihan, keindahan dan lingkungan.

Semoga suatu saat kota-kota di Indonesia akan menjadi kota yang bersih, hijau, indah dan bebas polusi serta ramah terhadap penduduk kotanya dan wisatawan yang datang.

Jumat, 05 Agustus 2016

CANDI DI TEPI SUNGAI LEMATANG


Keinginan untuk mengunjungi situs prasejarah atau sejarah dan potensi atau obyek wisata di Indonesia selalu ada dalam rencana perjalananku untuk mengenal dan mencintai kekayaan negeri Nusantara. Dan kali ini aku bersama keluarga kecilku yang terdiri istri dan kedua anakku Toti dan Juan berhasil menjejakkan kaki di komplek percandian terbesar di propinsi Sumatera Selatan.
Di pagi hari nan cerah kami mempersiapkan segala hal untuk perjalanan ke Candi Bumiayu. Dari persiapan kendaraan, kamera dan perbekalan makan dan minum selama dalam perjalanan. Sepengetahuan kami perjalanan yang akan kami tempuh sekitar111 km tidak ada tempat singgah atau rumah makan yang presentatif.
Setelah menempuh perjalanan 88 km dari Lahat atau 46 km dari Muara Enim di persimpangan jalan yang dikenal dengan Simpang Belimbing kami berbelok kiri menyusuri jalan beton yang sudah sedikit rusak bahkan rangka baja banyak yang sudah terlihat, ditambah lagi beberapa titik berlubang dan berdebu. Lalu kami melintas jembatan sungai Lematang yang masuk kecamatan Belimbing Kabupaten Muara Enim kemudian berbelok ke kanan ke arah Bumiayu. Akan tetapi dipersimpangan ini tidak ada petunjuk jalan maka kami stop untuk bertanya.
Dari Simpang Belimbing sampai dengan simpang setelah jembatan sungai Lematang berjarak sekitar 8 km. Dari simpang ini sampai di gerbang Candi Bumiayu berjarak 23 km. Jalan dari simpang jembatan sungai Lematang sampai di Candi Bumiayu berupa jalan beton yang mulus hampir tanpa cacat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 km kami menemukan pertigaan jalan tanpa tanda petunjuk jalan dan kami berhenti dan bertanya dengan seorang pengendara sepeda motor. Dan pengendara sepeda motor ini yang memandu kami sampai di gerbang Candi Bumiayu.
Dalam perjalanan menuju Candi Bumiayu kami sempat bertanya-tanya karena sepanjang perjalanan kami melihat tulisan pada berbagai bangunan bertuliskan kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim. Dan setelah mendapat penjelasan dari para juru pelihara Candi Bumiayu maka kami baru tahu bahwa sebelum masuk desa Bumiayu merupakan wilayah Muara Enim.
Setiba di komplek Candi 1 Bumiayu kami bertemu seorang juru pelihara dan kami di arahkan untuk menuju kantor mereka. Tiba di kantor kami diterima dengan suka cita oleh para juru pelihara yang berjumlah 6 orang. Mereka sangat ramah dan bersahabat. Yach…. Aku pernah bertemu mereka  pada suatu pertemuan dimana aku di minta menjadi salah satu nara sumber pada beberapa tahun lalu. Aku sangat senang bisa bertemu kembali dengan mereka begitu juga mereka. Setelah ngobrol beberapa saat kami sekeluarga di ajak melihat komplek Candi Bumiayu. Secara umum komplek candi Bumiayu terpelihara dengan baik dan tidak mengherankan kalau koordinator  juru pelihara situs ini mendapat penghargaan Juru Pelihara Terbaik Tingkat Nasional tahun 2015.
Pertama kami menuju Candi 8. Candi 8 terletak di dekat sebuah danau yang ada di kompleks Candi Bumiayu. Danau tersebut berair di musim hujan dan sebaliknya akan kering di musim kemarau. Candi 8 mempunyai bentuk persegi panjang dan merupakan candi induk. Terdapat susuanan bata-bata berhias. Dan di sebelah Selatan sekitar 12 meter dari Candi Induk terdapat Candi Perwara atau pendamping  yang berbentuk bujur sangkar. Candi 8 dilakukan pengupasan atau penggalian tanah gundukan pada tahun 1997.

Pada tahun 1996 sd. 1997 dilakukan pengupasan pada Candi 3 yang berhasil menemukan adanya 1 buah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di sebelah Utara, Timur, dan Selatan candi induk. Candi Perwara 1 merupakan candi yang ukurannya paling luas berdenah segi empat.  Candi Perwara 2 terletak di sebelah Selatan candi induk. Lokasinya persis di Selatan candi induk dan sangat dekat. Candi Perwara 3 lokasinya di sebelah Utara dari Candi Perwara 1. Candi berdenah segi empat. Candi induk mempunyai bentuk unik karena berdenah segi dua puluh yang terbentuk dari segi empat. Candi 3 ini dibandingkan dengan candi-candi lainnya diperkirakan yang paling megah bangunan. Candi induknya berdenah 12 persegi dengan sekeliling bangunan yang dihiasi dengan ukiran-ukiran mulai dari bagian kaki hingga atap.
Tak jauh dari candi 3 terdapat bangunan bertiang kayu dan beratap seng dengan pagar kayu setinggi 1 mtr. Di dalam bangunan ini terdapat banyak seperti arca singa, manusia, fragmen yang sangat indah. Melihat kondisi tinggalan yang begitu menawan dan bernilai karya sangat tinggi teronggok di bangunan yang sangat sederhana dan sangat tidak aman dari berbagai gangguan atau potensi pencurian sangat tinggi maka ada rasa miris, kasihan dan prihatin. Seharusnya tinggalan seperti ini sudah berada di sebuah museum yang super bagus dengan pemeliharaan dan pengamanan yang super ketat.

Kemudian kami menuju ke Candi 2 menyusuri jalan setapak yang terbuat dari bahan tonblok yang tertata rapi tapi sayang di tepi jalan setapak dipasang kawat berduri. Hal ini sangat tidak aman dan dapat membahayakan pengunjung terutama anak-anak. Kalau tujuannya agar tidak ada pengendara motor yang masuk maka dipintu masuk di pasang pemberitahuan kendaraan di larang masuk dan di pasang pagar yang tidak dapat ditembus oleh pengendara motor. Sebelum tiba di Candi 2 kami singgah di sebuah bangunan kayu seperti gudang. Bangunan ini berfungsi untuk menyimpang beberapa tinggalan berupa arca dan fragmen lainnya.

Candi 2 terletak di sebelah Barat Candi 1 atau di sebelah Utara Candi 3. Jarak antara Candi 1 ke Candi 2 dan antara Candi 2 dan Candi 3 hampir sama sekitar 500 mtr. Candi 2 merupakan sebuah kompleks bangunan candi yang terdiri dari sebuah candi induk berbentuk persegi empat , empat struktur bata mempunyai bentuk dan ukuran empat persegi panjang, dan sebuah candi perwara. Di kompleks Candi 2 ini didapatkan empat buah struktur bata yang tidak terdapat di candi lain. Candi induk merupakan bangunan yang telah dilakukan pengupasan pada tahun 2000. Pemugarannya dilakukan pada tahun 2002 dan 2003. Sedangkan pencungkupannya pada tahun 2004.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri jalan beton dan melintasi perumahan penduduk menuju Candi 1 dan 7. Candi 1 dan 7 Bumiayu terletak di sebelah barat Sungai Piabung. Candi ini yang pertama akan terlihat ketika memasuki kompleks percandian Bumiayu di sebelah kanan jalan. Kompleks candi 1 terdiri dari satu buah candi induk dan tiga buah candi perwara.
Candi induk merupakan bangunan yang telah dipugar dan dicungkup pada tahun 1993 dan 1996.  Bentuk bangunan berdenah empat persegi panjang dengan arah hadap candi ke arah Timur. Candi Perwara berjumlah tiga buah yang terletak di sebelah Timur candi induk. Candi Perwara 1 terletak di sebelah Utara. Bangunan berupa reruntuhan bata yang menyisakan lapisan bata. Candi Perwara ini dalam kondisi yang paling baik dibandingkan dengan candi perwara lainnya. Candi perwara 2 terletak di tengah dan merupakan reruntuhan bangunan kedua yang kondisinya masih cukup baik. Candi Perwara 3 terletak di sebelah Selatan dan merupakan reruntuhan bata yang mengalami kerusakan paling parah. Bata-batanya telah banyak yang hilang. Namun berdasarkan sisa-sisa struktur yang ada diperkirakan bentuk bangunannya sama dengan bangunan lainnya. Candi 4 terletak sekitar 10 meter di sebelah Timur Candi Perwara dengan posisi sejajar dengan candi perwara II yang berada di tengah. Candi ini diperkirakan berdenah empat persegi panjang.
Candi 7 terletak di sebelah Timut Laut Candi 1 dengan jarak 20 meter. Dari keletakannya sebetulnya Candi 7 ini masih bagian dari candi-candi yang berada di Candi 1. Pada mulanya Candi 7 merupakan gundukan tanah setinggi sekitar 1 meter. Pada tahun 2002 dilakukan ekskavasi dan berhasil menemukan struktur bata yang memanjang dengan orientasi barat-timur.  Candi 7 berdenah dasar empat persegi panjang dengan bentuk tidak lazim karena bagian tengahnya kosong atau tidak ada bata-bata isian. Selain itu di bagian dalam terdapat susunan bata yang membentuk lingkaran.
Di komplek Candi 1 dan 7 terdapat sebuah bangunan berdinding kayu dan berjendela kaca. Di dalam bangunan ini tersimpang berbagai temuan berupa arca/patung dan fragmen. Arca pertama di dekat pintu masuk berupa arca babi dengan bahan tanah warna putih lalu arca singa berbahan tanah merah, berbagai arca manusia dan yang menarik arca seekor gajah ditunggangi seorang manusia kerdil dan paling atas seekor singa. Arca ini berbahan tanah warna merah hitam. Gedung inipun tidak layak untuk menyimpang tinggalan sejarah yang sangat tinggi nilai karya budayanya. Semua tinggalan disini disimpan dengan sangat tidak aman dan rawan pencurian.
Di luar  komplek Candi 1 dan 7 sedang dalam proses pembebasan lahan yang disinyalir merupakan komplek candi. Dan nantikan setelah dilakukan eskavasi maka komplek candi Bumiayu akan bertambah menjadi 12 candi.
Kompleks Candi Bumiayu terletak di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI, Propinsi Sumatera Selatan yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Muara Enim.. Desa Bumiayu berbatasan dengan Desa Tanah Abang Selatan di sebelah Utara, Desa Kemala di sebelah Timur, Desa Siku di sebelah Selatan dan Desa Pantadewa di sebelah Barat.
Kompleks Candi Bumiayu memiliki 10 (sepuluh) gundukan tanah yang diduga berisi struktur bata sisa bangunan kuno. Dari 10 (sepuluh) gundukan tanah tersebut 4 (empat) diantaranya berukuran cukup besar, yaitu gundukan Candi 1, Candi 2, Candi 3 dan Candi 8. Kawasan situs dialiri oleh Sungai Lematang di sebelah Timur dan dikelilingi oleh sungai-sungai kecil, yaitu: Sungai Piabung, Sungai Lebak Jambu, Sungai Lebak Tolib, Sungai Lebak Panjang, Sungai Lebak Siku dan Sungai Siku Kecil. Keseluruhan sungai-sungai tersebut saling berhubungan membentuk parit yang mengelilingi kompleks percandian Bumiayu dan melalui Sungai Siku bermuara di Sungai Lematang.
Situs Bumiayu pertama kali dilaporkan oleh E.P Tombrink pada tahun 1864 dalam Hindoe Monumenten in de Bovenlanden van Palembang. Dalam kunjungannya di daerah Lematang Ulu dilaporkan adanya peninggalan-peninggalan Hindu berupa arca dari trasit berjumlah 26 buah, , sedang di daerah Lematang Ilir ditemukan runtuhan candi dekat Dusun Tanah Abang, dan sebuah relief burung kakatua yang sekarang disimpan di Museum Nasional. Kemudian pada tahun 1904 seorang kontrolir Belanda bernama A.J Knaap melaporkan bahwa di wilayah Lematang ditemukan sebuah runtuhan bangunan bata setinggi 1,75 meter, dan dari informasi yang diperoleh bahwa reruntuhan tersebut merupakan bekas keraton Gedebong-Undang. JLA Brandes juga melakukan penelitian pada tahun yang sama.Di dalam majalah Oudheidkundig Verslag, FDK. Bosch menyebutkan bahwa di Tanah Abang ditemukan sudut bangunan dengan hiasan makhluk ghana dari terrakota, sebuah kemuncak bangunan berbentuk seperti lingga, antefiks, dan sebuah arca tanpa kepala. Tahun 1923 Westenenk melakukan hal yang sama. Pada tahun 1936 F.M. Schnitger telah menemukan tiga buah runtuhan bangunan bata, pecahan arca Siwa, dua buah kepala Kala, pecahan arca singa dan sejumlah bata berhias burung. Artefak-artefak yang dibawa Schnitger itu sekarang disimpan di Museum Badaruddin II, Palembang
Penelitian yang dilakukan oleh bangsa Indonesia baru dilaksanakan pada tahun 1973 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Universitas Pennsylvania. Pada penelitian tersebut ditemukan tiga buah runtuhan bangunan yang dibuat dari batu bata. Kemudian pada tahun 1976 dilakukan survei dan berhasil menemukan tiga buah runtuhan bangunan. Penelitian secara intensif dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1990 yang bekerja sama dengan Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO). Kemudian penelitian dilanjutkan pada tahun 1991 dengan melakukan pemetaan menyeluruh di kompleks Percandian Bumiayu, serta penelitian biologi dan geologi. Dari hasil penelitian tahap I ini dapat diketahui bahwa situs tersebut dikelilingi parit yang berhubungan dengan sungai Lematang. Sedang dari hasil pengamatan geologi dilaporkan bahwa lokasi kompleks percandian yang terletak di kelokan sungai Lematang ini dalam jangka waktu 20 tahun dikhawatirkan bangunan candinya akan terbawa arus sungai.

Atas kondisi yang ada Candi Bumiayu masih sangat perlu dilakukan pembangunan museum yang layak untuk benda-benda yang sangat bersejarah, petunjuk arah menuju situs agar dapat dijangkau lebih mudah, penataan taman di lokasi situs, lahan parkir yang memakai, pusat informasi bagi pengunjung situs, sarana toilet dan tempat sampah yang memakai, tempat makan dan minum yang representative dan promosi yang gencar baik oleh Pemkab.PALI maupun Pemprop.Sumsel khususnya Dinas Pariwisata.
Situs Candi Bumiayu harus dikenalkan kepada seluruh masyarakat Sumsel khususnya dan Indonesia pada umumnya. Saat ini keberadaan Candi Bumiayu tidak banyak diketahui masyarakat, khususnya masyarakat Sumatera Selatan.

Bilamana Candi Bumiayu dikelola secara profesional dan dijadikan salah satu destinasi wisata di Sumatera Selatan maka bukan hal mustahil Candi Bumiayu yang merupakan komplek candi terbesar di Sumatera Selatan akan menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan disamping destinasi lainnya seperti Megalit Lahat, Gunung Dempo Pagaralam, Danau Ranau OKUS, Air Terjun Bedegung Muara Enim. Jadikan Sumatera Selatan destinasi wisata Nusantara.

Sabtu, 23 Juli 2016

SRIWIJAYAKU DULU & SEKARANG


Kerajaan Sriwijaya terletak di jalur yang strategis, jalur perdagangan antara India dan Cina. Selain itu, kerajaan ini juga berhasil menguasai Selat Malaka yang merupakan jalur pusat perdagangan di Asia Tenggara. Dengan menguasai selat tersebut menjadikan Sriwijaya menjadi kerajaan yang mengatur perdagangan nasional dan internasional.
Dalam bidang kebudayaan khususnya keagamaan, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha di Asia tenggara dan Asia timur. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya ialah Agama Buddha Mahayana, salah satu tokoh yang terkenal ialah Dharmakirti.
Kerajaan Sriwijaya berada dalam masa kejayaan pada abad ke 9-10 masehi. Saat itu, Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan maritim yang ada di Asia Tenggara. Dominasi Sriwijaya atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan kerajaan ini sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal.
Bahkan, Kerajaan Sriwijaya juga mengenakan bea dan cukai atas setiap kapal yang melewati dua selat tersebut. Sriwijaya mengumpulkan kekayaan dari jasa pelabuhan dan gudang perdagangan, khususnya pasar Tiongkok dan India.
Berdirinya Kerajaan Sriwijaya masih menjadi misteri, tidak banyak bukti sejarah yang menerangkan kapan berdirinya kerajaan ini. Bukti tertua adalah sebuah berita dari Cina, yaitu pada tahun 682 M ada seorang pendeta Tiongkok bernama I-Tsing yang ingin belajar agama Budha di India. Pendeta tersebut singgah terlebih dahulu di Sriwijaya untuk mendalami bahasa Sanskerta selama 6 Bulan. Dalam sebuah literatur juga menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pada saat itu dipimpin oleh Dapunta Hyang.
Selain berita dari luar, ada juga prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, diantaranya adalah prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di Palembang. Isi prasasti tersebut adalah Dapunta Hyang mengadakan ekspansi 8 hari dengan membawa 20.000 tentara dan berhasil menaklukkan beberapa daerah.
Nah, dari dua bukti yang sudah disebutkan , maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 dengan raja pertamanya adalah Dapunta Hyang.
Nama Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta berupa "Sri" yang artinya bercahaya dan "Wijaya" berarti kemenangan sehingga dapat diartikan dengan kemenangan yang bercahaya atau gemilang.
Nama Sriwijaya begitu dekat dan melekat  pada masyarakat Indonesia  khususnya masyarakat Sumatera Selatan. Di Kota  Palembang ada Pupuk Sriwijaya (Pusri), Universitas Sriwijaya (Unsri), klub sepak bola Sriwijaya FC, maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Festival Sriwijaya, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya dan Propinsi Sumatera Selatan juga berjuluk Bumi Sriwijaya. Jadi banyak hal yang berbau nama atau menggunakan nama Sriwijaya. Semua nama tersebut untuk mengingatkan kita nama besar Sriwijaya dan harapan agar dengan menggunakan nama Sriwijaya maka usaha atau kegiatan akan menjadi besar seperti kebesaran Kerajaan Sriwijaya dimasanya.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumatera Selatan khususnya masyarakat Kota Palembang dimana telah berdiri suatu kerajaan besar pertama di Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang menguasai perdagangan Asia Tenggara.
Beberapa bukti yang diyakini sebagai peninggalan Sriwijaya antara lain : Bukit Seguntang yang merupakan bukit paling tinggi di dataran Palembang sekitar 30 mdpl telah dianggap sebagai tempat penting sejak masa Kerajaan Sriwijaya, beberapa temuan artefak yang bersifat Buddhisme menunjukkan tempat ini adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan. Pada tahun 1920-an di lereng selatan bukit ini ditemukan arca Buddha bergaya Amarawati. Arca berukuran cukup besar ini ditemukan dalam beberapa pecahan. Arca setinggi 277 cm ini dibuat dari batu granit.
Di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa. Kepala arca digambarkan dengan rambut yang tersisir rapi dengan ikatan seutas pita yang berhiaskan kuntum bunga. Di bukit ini juga ditemukan reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah tertumpah, disamping itu juga menyebutkan kutukan bagi mereka yang berbuat salah.
Pada bagian puncak bukit terdapat beberapa makam yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, Sriwijaya. Terdapat tujuh makam di bukit ini yang merupakan Makam Raja-raja Sriwijaya, yaitu makam:
  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang
Bukit Seguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. Bukit Seguntang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Palembang sebagai Obyek Wisata Situs Arkeologi Bukit Seguntang.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau TPKS terletak di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus. Situs itu terletak sekitar lima kilometer sebelah barat pusat Kota Palembang. Situs Karanganyar merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang masih bisa disaksikan. Situs dikelilingi kanal-kanal. Diduga kanal-kanal tersebut dibuat pada masa Sriwijaya untuk jalur transportasi, mengatur banjir, atau sebagai benteng.
Di dalam taman purbakala ini terdapat Museum Sriwijaya, yaitu pusat informasi mengenai situs dan temuan Sriwijaya di Palembang. Pada bagian tengah situs ini terdapat pendopo berarsitektur rumah limas khas Palembang yang ditengahnya disimpan replika Prasasti Kedukan Bukit dalam kotak kaca. Prasasti ini menceritakan mengenai perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang yang dianggap sebagai tonggak sejarah berdirinya kemaharajaan Sriwijaya.
Namun kedua tempat yang sangat bersejarah dan menjadi salah satu bukti kebesaran sebuah kerajaan besar Sriwijaya kondisinya cukup memprihatikan. Fungsi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya dan Obyek Wisata Situs Arkeologi Bukit Seguntanng sebagai Pusat Informasi Sriwijaya dan sebagai daya tarik wisata budaya di Palembang masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagian besar masyarakat Palembang sekarang masih belum mengetahui keberadaan kedua peninggalan ini sebagai peninggalan masa Sriwijaya, apalagi sebagai pusat informasi tentang Sriwijaya. Selama ini peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Sayang sekali kini kedua kompleks ini terbengkalai dan kurang terawat. Jalan di dalam komplek yang tidak baik, sampah berserakan di mana-mana, hampir setiap sudut dijadikan tempat membakar sampah, berbagai bangunan dibiarkan tidak terurus dan fasilitas yang masih terkesan apa adanya.
Maka kesan kebesaran kerajaan besar Kerajaan Sriwijaya akan hilang dengan melihat kondisi kedua komplek peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang sangat tidak terurus dan tidak tertata secara professional. Apalagi pada tahun 2018 Palembang akan menjadi tuan rumah Asian Games sebuah perhelatan olahraga besar se benua Asia. Kalau kondisi ini tidak diperbaiki maka akan mencoreng nama Kota Palembang dan nama besar Kerajaan Sriwijaya.

Selasa, 28 Juni 2016

KERETA API DI SUMATERA SELATAN DAN LAMPUNG

Jalur kereta api di Sumatera Selatan dan Lampung mulai dibangun tahun 1911. Lintas pertama yang dibangun adalah dari Pelabuhan Panjang, Tarahan menuju Tanjung Karang, Lampung sepanjang 12 km. Lintas ini mulai dioperasikan 3 Agustus 1914. Pada waktu yang bersamaan dibangun pula jalur dari Kertapati ke arah barat menuju Prabumulih, Sumatera Selatan tapi jalur ini di buka 1 Desember 1916. Pembangunan jalur kereta api ini terus ke Barat hingga Lahat, Tebing Tinggi dan berujung di Lubuk Linggau yang dibuka 1933. Jalur simpangpun dibuka ke arah Tanjung Enim dari Muara Enim. Pada tanggal 22 Februari 1927 jalur dari arah Kertapati akhirnya bertemu dengan jalur dari Tanjung Karang di Prabumulih. Pada waktu itu rel yang berhasil dibangun Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) panjangnya mencapai 529 km. Semuanya menggunakan lebar sepur 1.067 mm. Kini panjangnya mencapai 720 km. Usai PD I, resesi ekonomi melanda perusahaan ini sehingga pembangunan rel terhenti. Namum tahun 1925 ada rencana untuk melanjutkan pembangunan rel dari Sumatera Selatan menuju Sumatera Barat dan Tapanuli. Dalam rencana ini Stasiun Lubuk Linggau, Sumatera Selatan akan terhubung dengan Rantauprapat, Sumatera Utara. Namun hingga kini program tersebut belum terwujud. Di tahun 2000an ini ada program besar pembangunan jalur kereta api di Sumatera yakni Trans Sumatera Railway. Dalam mega proyek ini jalur kereta api akan saling bertemu sepanjang Pulau Sumatera. Dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan akan menyambung ke Teluk Bayur-Muaro, Sumatera Barat hingga Rantau Prapat, Sumatera Utara dan Banda Aceh. Akan ada jalur kereta api bawah laut dari Dumai menuju Malaysia dan dari Panjang, Lampung menuju Merak,Banten. Pembukaan Jalur Kereta Api Jalur Tahun Panjang – Tanjung Karang 1914 Tanjung Karang – Labuhan Ratu 1915 Negara Ratu – Martapura 1915 Kertapati – Prabumulih 1916 Prabumulih – Gunung Megang 1917 Labuhan Ratu – Tigeneneng 1917 Tigeneneng – Haji Pemanggilan 1919 Haji Pemanggilan – Blambangan 1921 Blambangan – Kotabumi 1923 Gunung Megang – Muara Enim 1923 Prabumulih – Baturaja – Martapura 1924 Kotabumi – Cempaka 1925 Lahat – Tebing Tinggi – Lubuk Linggau 1933