Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Selasa, 12 September 2017

Jelajah Negeri Mengenal Alam "SEMIDANG RINDU Air terjun di negeri di atas awan"


Keindahan panorama  alam kabupaten Lahat tak pernah akan habis untuk di explore. Saat ini telah terdata 131 air terjun di Kabupaten Lahat dengan ketinggian dan keindahan yang bervariasi. Dalam kurun waktu 5 tahun ini Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata “Panoramic of Lahat” tak henti-hentinya mendata potensi alam dan budaya Kabupaten Lahat. Dan yang telah diakui secara nasional adalah megalitik. Pada tahun 2012 Panoramic of Lahat telah mendapat rekor MURI sebagai Kolektor Data Megalitik Terbanyak se Indonesia. Dan kali ini Panoramic of Lahat juga telah medaftarkan air terjun Kabupaten Lahat sebagai air terjun terbanyak se Indonesia.

Kali ini tim Panoramic of Lahat melanjutkan penjelajahan ke air terjun Semidang Rindu di Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat. Untuk menuju ke air terjun ini dari Kota Lahat dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Dari Kota Lahat ke arah Kota Pagaralam dan dipertigaan simpang Asam di kilometer 33 dari Kota Lahat belok ke kiri ke arah Kota Agung/Semendo lalu di desa Sukarame belok kanan. Setelah perjalanan 3 km di pertigaan desa Pandan Ara Ulu belok ke kiri dan menyusuri jalan berbatu menuju desa Tunggul Bute. Dari sini perjalanan menanjak menyisir tepi tebing di ketinggian 1.400an mdpl. Sering kali kami harus membunyikan klakson di setiap tikungan tajam untuk menghindari tabrakan karena jalan sangat sempit. Jalanan terus mendaki dengan pemandangan di sebelah kanan berupa tebing dan di sebelah kiri berupa jurang dengan  hamparan perkebunan kopi di lereng Bukit Barisan.  

Setelah melakukan perjalanan sejauh 10 km tibalah di batas desa Tunggul Bute dan di sebelah kiri jalan terlihat jelas pemberitahuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro dan Air Terjun Semindang Rindu. Kendaraan kami berhenti disini dan kami melanjutkan perjalanan berjalan kaki sejauh 200 meter menyusuri kebun kopi. Jika menggunakan kendaraan roda dua dapat parkir tepat di atas air terjun dan dilanjutkan dengan jalan menuruni sekitar 50 anak tangga lalu menyusuri sungai sejauh 20 meter dan akan menikmati keindahan air terjun Semidang Rindu dengan ketinggian sekitar 15 meter. Air terjun ini sangat alami dengan airnya yang sangat jernih membentuk danau kecil dibawahnya. Air terjun ini disebut Air Terjun Semidang Rindu Atas.

Sedang untuk menikmati Air Terjun Semidang Rindu Bawah maka kami kembali berjalan menaiki tangga dan kembali ke atas air terjun lalu berjalan sekitar 20 meter dan menuruni puluhan anak tangga yang terbuat dari plat baja dengan kemiringan mencapai 80 derajat. Di samping anak tangga terdapat pipa baja berwarna biru dengan diameter sekitar 30 cm sebagai sarana untuk mengalirkan air untuk membangkitkan generator dibawahnya. Yach air terjun Semidang Rindu Bawah telah berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro dengan kapasitas produksi listrik sekitar 1 megawatt yang telah menerangi Desa Tunggul Bute di Kabupaten Lahat dan Desa Segamit di Kabupaten Muara Enim.

Air Terjun Semidang Rindu Bawah memiliki ketinggian sekitar 25 meter sehingga membentuk danau lebih besar di banding air terjun diatasnya. Airnya yang jernih sangat menggoda untuk berenang menikmati sejuknya air dan udara di negeri di atas awan. Di bagian air terjun ini juga terdapat gua yang belum diketahui kedalamannya.

Kami sangat menikmati suasana dan keindahan air terjun ini sehingga kami cukup lama untuk mengabadikan keindahan air terjun ini dengan kamera kami. Dan kamipun sempat berpose dengan latar belakang air terjun. Selain keindahan air terjun, hijaunya pepohonan di kawasan ini sangat menyejukkan hati dan pikiran.

Pada aliran sungai ini selain terdapat air terjun Semidang Rindu Atas dan Bawah juga terdapat air terjun Bale yang telah kami kunjungi pada waktu sebelumnya. Jadi saat ini pada aliran sungai ini terdapat 3 air terjun.

Setelah puas menikmati keindahan kedua air terjun kami kembali ke atas menaiki satu per satu anak tangga lalu dilanjutkan berjalan kaki. Jalan sedikit menanjak tapi tidak membuat kami lelah bahkan kami nikmati dengan mengambil photo bunga kopi yang sedang mekar berwarna putih. Kemudian kami beristirahat di sebuah warung dan menikmati kopi robusta asli desa Tunggul Bute. Kamipun sempat membantu pemilik warung kopi mengumpulkan biji kopi yang sedang dijemur menjadi satu tumpukkan lalu ditutup terpal agar terhindar dari hujan. Karena di Desa Tunggul Bute dengan ketinggian di atas 1.400 mdpl curah hujan sangat tinggi bahkan disini jarang terlihat matahari bersinar terik akan tetapi lebih sering terlihat kabut, maka tidak heran desa ini disebut juga negeri di atas awang.

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju sebuah danau di Desa Segamit Kecamatan Semendo Kabupaten Muara Enim yang berjarak sekitar 15 km dari desa Tunggul Bute. Jalanan berbatu tanpa aspal dengan lebar sekitar 22 meter, datar  dan sangat nyaman untuk dilalui. Danau Seduduk terletak sekitar 100 meter dari jalan utama. Sebuah danau yang cukup luas yang terletak di perbukitan gugusan Bukit Barisan dengan ketinggian di atas 1.500 mdpl. Di sini terlihat banyak orang memancing ikan. Danau ini masih sangat alami dan belum sama sekali ada sentuhan untuk dijadikan destinasi wisata.


Di kawasan ini juga sekarang sedang dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau Geothermal. Semoga pembangunan ini akan berhasil dan nantinya akan membantu pengembangan kawasan ini menjadi destinasi pariwisata yang juga akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Lahat.

Jumat, 02 Juni 2017

SEJARAH PALEMBANG


Imperium Sriwijaya nyaris terlupakan dari sejarah Nusantara. Kebesarannya sempat terhapus . Adalah peneliti asal Perancis George Coedes yang berjasa mengungkapkan kembali kejayaannya melalui penelitiannya tahun 1918.
Coedes berhasil menemukan kode kuncinya lewat kata “San-fo-ts’i’’ yang banyak tercantum dalam naskah-naskah Cina, seperti laporan perjalanan I Tsing, pengelana besar dari Tiongkok abad ke-7 M. Sebelumnya “San-fo-ts’I” dibaca sebagai “Sribhoja”, yang merujuk pada satu kerajaan Melayu tua yang tak jelas riwayatnya. Coedes untuk kali pertama membaca kata-kata Cina itu sebagai Sriwijaya. Bahkan, berdasar telaahnya atas Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Bangka 1898, Coedes mengidentifikasi bahwa Kedatuan (istana) Sriwijaja ada di Kota Palembang. Teori Coedes itu makin tak terbantahkan dengan penemuan prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo di Palembang di tahun 1920.
Lokasi Kedatuan Sriwijaya diperkirakan ada di antara Bukit Siguntang dan Sabokingking, Palembang. Embrio Sriwijaya telah tumbuh sejak awal abad ke-6 di Palembang. Namun, Kebesaran Sriwijaya setidaknya mulai terpancar tahun 671, ketika I-tsing berkunjung ke ibukota negeri maritim itu yang bertahta di sana saat itu adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Prasasti Bukit Kapur menyebutkan bahwa sang prabu berhasil menaklukkan Kerajaan Menanga di Tanah Melayu, Taruma Negara (Sunda), dan Kalinga (Jawa). Raja berikutnya, Sri Indrawarman, punya visi diplomatik  yang canggih. Ia mengirimkan utusan ke Kaisar China di Beijing, juga kepada Khalifah Ummayah I di Damaskus. Sang raja ingin menjalin hubungan yang bersahabat. Begitu halnya dengan Rudra Vikraman, yang naik tahta tahun 728, tetap menjalin hubungan dengan Cina. Tradisi itu berlanjut hingga Sriwijaya runtuh. Sejak era Dapunta Hyang Sri Jayanasa, Sriwijaya sudah menguasai jalur perdagangan regional. Kerajaan maritim ini mengontrol Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata dan Laut Jawa.
Pada masa kejayaannya, Sriwijaya mendominasi Asia Tenggara, dan menguasai wilayah Thailand Selatan hingga Kamboja. Sejarah juga mencatat bahwa Sriwijaya sempat mengirim ekspedisi menyeberangi samudera hingga ke Madagaskar. Penguasa Sriwijaya adalah pemeluk Budha. Mereka sering disebut Wangsa Syailendra. Namun, sejak tahun 743 hingga 835, kekuasaan di Kedatuan Palembang kosong. Para sejarawan menafsirkan bahwa k
eluarga Syailendra ini hijrah ke Jawa dan mengontrol pemerintahannya dari Jawa tengah. Dalam kurun itulah mereka berhasil membangun Candi Borobudur yang megah. Kemelut politik di Jawa membuat wangsa Syailendra memilih kembali ke Palembang di tahun 835. Balaputeradewa pun tampil melanjutkan kekuasaan dinastinya. Kebesaran Sriwijaya kembali menjulang sampai satu setengah abad depan. Para pengelana Cina melaporkan bahwa keperkasaan Sriwijaya saat itu terpancang di Kerajaan Trengganu, Langkasuka, Dungun, Sungai Paka, Cheratin, Semawe – semua ada di semenanjung Malaya; kemudian Trambalingga dan Grahi di Thailand Selatan, Jambi, Lamuri di Aceh, hingga Sunda dan Silan (Kamboja).


Namun, dalam perkembangannya, pamor Sriwijaya berangsur surut. Serbuan Rajendra Cola Dewa, Raja Cola dari Tamil, India, membuat Sriwijaya ambruk tahun 1025. Raja Cola tak menduduki kedatuan Sriwijaya, dan tidak pula menempatkan wakilnya di sana. Targetnya sebatas untuk mengakhiri hegemoni Sriwijaya di Selat Malaka pun tercapai. Serangan tentara Tamil itu membuat Sriwijaya sulit bangkit. Dalam situasi ini muncul kekuatan baru, Kerajaan Dharmasraya di Jambi, yang berkedudukan di tepian Sungai Batanghari. Kedatuan Melayu ini dikuasai oleh Wangsa Mauli . Menjelang akhir abad 12 M, Kedatuan Sriwijaya yang sudah berganti nama menjadi Palembang menjadi negeri bawahan Jambi. Sejarah terus bergerak. Hegemoni Dharmasraya tergeser oleh kekuatan baru dari Jawa. Palembang jatuh di bawah pengaruh Singasari 1283, dan kemudian berpindah tangan ke imperium maritim Jawa berikutnya, yakni Majapahit. Tak mau berada di bawah panji Majapahit, Sang Nila Utama, Raja terakhir Sriwijaya, memilih hijrah ke Pulau Bintan dan membangun kekuatan di sana. Setelah cukup kuat, Sang Nila pun menyerang Tumasik (Singapura), dan menyingkirkan Tumagi, “gubernur” yang mewakili Kerajaan Ayuttha dari Thailand. Penerus wangsa Sriwijaya ini bertahan hingga empat generasi, sampai kemudian Sang Parameswara, cicit dari Raja Sang Nila Utama, memindahkan kekuasaannya ke Malaka, di Semenanjung Malaya pada tahun 1402, menghindari gesekan dengan Majapahit. Ketika itu di pesisir Timur Aceh itu telah tumbuh pula kekuatan baru : Kerajaan Islam Samudera Pasai. Prameswara memilih berdamai dengan Pasai. Ia pun memeluk Islam, menyunting salah satu puteri Raja Pasai, lantas menobatkan dirinya sebagai Sultan Iskandar Syah. Palembang sendiri tetap menjadi bandar yang hidup. Namun, Majapahit ternyata tak mengelola Palembang dengan sungguh-sungguh sehingga kota ini sempat pula jatuh ke tangan pendatang Cina di bawah pimpinan Chen Tsu-I di tahun 1370. Chen adalah saudagar kaya dari Guangzhou yang lari ke Palembang karena urusan politik. Dengan kekuatan harta dan laskarnya, Cheng menjadi penguasa Palembang, dan ia mencoba mengontrol Selat Malaka dengan armada lautnya. Aksi kekerasan oleh kaki tangannya membuat Chen dikenal sebagai bos perompak Cina yang berpangkalan di Palembang. Adalah ekspedisi Cheng Ho 1407 yang mengakhiri petualangan Chen Tsu-I. Kekuatan militernya dihancurkan dan Chen diboyong pulang ke Cina untuk menjalani hukuman mati. Cheng Ho mengangkat salah satu anak Chen sebagai kepala perwakilan dagang resmi Kerajaan Cina di Palembang. Situasi beranjak aman. Dalam kevakuman ini lahir penguasa baru di Palembang dan dikenal sebagai Sultan Mugni. Ia memimpin daerah yang plural. Di sana ada komunitas Melayu, Jawa, Cina, dan dalam jumlah terbatas ada pula orang Arab dan India. Namun, Majapahit tak melepas klaimnya atas Palembang. Setelah kemelut internnya mereda, Raja Brawijaya Kertabumi mengirim Arya Damar ke Palembang sebagai raja muda (adipati) tahun 1445. Untuk menghindari ketegangan, Arya Damar menempuh jalan damai. Ia mendekati Sultan Mugni, memeluk Islam, bahkan menyunting Puteri Semindung Biduk, anak kesayangan Sang Sultan. Berikutnya, Sultan Mugni yang telah berusia lanjut mengangkat Arya Damar menjadi penguasa Palembang. Ia berganti nama menjadi Arya Dilah (dari kata Andillah). Ia dipercaya mengasuh Raden Fatah, salah satu putera rajaMajapahit, di Palembang dan menjadikannya sebagai Muslim. Dari jauh, Arya Dillah menyaksikan pamor Majapahit memudar. Sebelum runtuh, Arya Damar mengirim Raden Fatah pulang ke Jawa. Atas seizin Raja, R. Fatah membangun kota di Demak, Jawa Tengah. Akhirnya, suratan nasib membawa Raden Fatah menjadi penguasa Jawa setelah Majapahit ambruk. Ia dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sultan Syeh Akbar Al Fatah, dan bertahta di Keraton Demak Bintoro 1500-1518. Klaim atas Palembang tidak pernah ia lepaskan. Ia berniat mengirim puteranya Pati Unus ke Palembang sebagai adipati, namun sang pangeran gugur dalam misi penyerbuan ke Malaka, memerangi kolonialis Portugis. Sepeninggal Arya Damar, Palembang dipimpin oleh Karang Widara. Kekuasaan Demak berlangsung singkat saja dan berujung perang suksesi antara Arya Penangsang (penguasa Jipang) dan Hadiwijaya (penguasa Pajang). Arya Penangsang terbunuh. Hadiwijaya membangun kekuasaan yang sinkretis di Pajang — dan berlanjut ke Mataram. Sejumlah pengikut Arya Penangsang menyingkir ke Palembang. Mereka membangun kerajaan Islam di situ.



Kesultanan Palembang

Penguasa pertama di situ adalah Ki Gede Ing Suro. Ia mendarat di Palembang 1552. Setelah 17 tahun berkuasa, ia digantikan keponakannya karena tak punya anak lelaki. Penguasa baru ini juga bergelar Ki Gede Ing Suro. Dinasti Suro membangun keraton di suatu lokasi yang kini dikenal sebagai Kuto Gawang. Selama berkuasa di Palembang hingga 1823, Dinasti Suro itu meninggalkan empat situs keraton, yakni Kuta Gawang, Beringin Janggut, Kuta Tengkuruk, dan situs Kuta Besak yang hingga kini masih utuh, terletak di jantung kota Palembang Pengaruh tradisi keraton Jawa masih melekat pada Dinasti Suro. Kerajaan Palembang juga menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Mataram di Jawa. Maka, nama-nama penguasa Palembang pun masih berbau Jawa seperti Ki Mas Adipati, Pangeran Madi Alit, atau Pangeran Seda Ing Pura. Namun, dalam perjalannya Kerajaan Palembang melepas identitas kejawaannya, seraya mendeklarasikan sebagai kerajaan Islam pada tahun 1675 dengan nama Kesultanan Palembang Darussalam. Keengganan Mataram membantu Palembang memerangi Belanda turut mempercepat proses ini. Deklarasi Kesultanan Palembang dilakukan Sri Susuhunan Aburahman Cinde Walang yang bertahta antara 1659-1706. Para penerus tahtanya kemudian hari menyandang gelar sultan dengan nama Islam di belakangnya. Pengaruh budaya Arab dan Melayu menguat. Pada masa kejayaannya, kekuasaan Kesultanan Palembang juga hadir di pedalaman, bahkan hingga Lubuk Linggau. Di sana ada kepala daerah yang bergelar Dipati, yang membawahi para kepala adat yang disebut pasirah. Hubungan pusat dan pedalaman dilalukan melalui jalur sungai. Kesultanan Palembang pun memiliki aturan baku untuk tata pemerintahannya, yang tertuang dalamKitab Simbur Cahaya, yang ditulis dalam Bahasa Melayu di era pemerintahan Ratu Sinuhun 1639-1650. Dalam perjalanannya Simbur Cahaya ini mengalami beberapa kali perubahan sesuai perkembangan zaman. Pada edisi terakhir yang terbit abad 19, Simbur Cahaya telah mengatur pula tentang proses perkawinan yang lebih murah. Sultan-sultan Palembang ini umumnya enggan berkolaborasi dengan Belanda maupun Inggris. Gerak para pedagang asing dari Arab, Cina dan India amat dibatasi, termasuk perusahaan Belanda dan Inggris yang datang dengan membawa pengawal bersenjata.  Orang asing hanya diijinkan menggelar usaha dan bermukim di Seberang Ulu. Kawasan Ilir hanya untuk keluarga istana, pangeran, bangsawan, mantri (punggawa yang hanya diangkat oleh sultan), dan penduduk yang terikat hubungan patron-klien dengan para bangsawan. Kalau pun ada pengecualian, hanya berlaku bagi orang Arab yang menjadi guru spiritual keluarga istana (umumnya orang Arab), dan orang Arab serta Cina yang diangkat sultan sebagai mantri. Sikap keras Kesultanan Palembang itu menciptakan ketegangan dengan kaum kolonial Belanda. Konflik bersenjata beberapa kali terjadi. Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1852) melanjutkan tradisi dinastinya yang tak mau tunduk dengan kekuatan kolonial Barat. Ia menyelesaikan bangunan benteng besar dengan tembok setebal 1,9 meter, yang dirintis pendahulunya, untuk melawan kekuatan kolonial Barat. Bangunan besar itu kini dikenal sebagai Benteng Kuto Besak yang di pusat kota Palembang. Perang terbuka pun pecah. Setelah tiga kali melakukan serangan, serdadu Belanda akhirnya menundukkan tentara Palembang. Sultan diasingkan ke Bandaneira (Maluku) dan kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam dihapus sejak 1823. Selanjutnya, Sumatera Selatan sepenuhnya di bawah kendali Residen Belanda yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal.

Era Baru

Kehadiran Pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu sontak mengubah struktur sosial di Palembang. Pengaruh para bangsawan merosot setelah mereka kehilangan hak-hak istimewa atas tanah pertanian, perniagaan, dan cukai. Sebagian besar mereka jatuh miskin, uang tunjangan yang diberikan pemerintah kolonial sebagai kompensasi atas penghapusan hak-hak istiwewa sama sekali tidak memadai. Tatanan berubah total. Di Palembang muncul kelas menengah baru, yakni para saudagar Arab dan Tionghoa. Mereka menggantikan posisi para priayi. Runtuhnya Kesultanan membuat saudagar Arab dan Cina  lebih leluasa memilih tempat tinggal. Rumah-rumah mereka tersebar di banyak kampung dengan bentuk bangunan mentereng dan dibuat dengan kayu-kayu nomor satu. Beberapa dari mereka membangun rumah tembok, hal yang ditabukan di zaman Kasultanan Palembang. Penduduk pribumi yang sukses secara ekonomi juga ikut mendobrak adat lama itu dengan membangun rumah-rumah yang mentereng. Dalam mengelola pemerintahan, Kolonial Belanda masih memanfaatkan struktur lama, dengan pasirah yang memimpin marganya di dusun masing-masing. Di atas mereka ada demang yang berada di bawah pengawasan kontrolir Belanda. Selanjutnya para kontrolir bertanggung jawab kepada residen. Dalam kepemimpinan marga ini, pasirah didampingi khatib dan lebai yang otoritasnya di bersandar pada tradisi Islam. Dengan makin terbukanya wilayah ini, Karesidenan Palembang pun dibagi menjadi 9afdeeling (semacam kabupaten di Jawa). Namun, berbeda dari pola Jawa, afdeeling Palembang tak memerlukan pejabat tradisional setingkat bupati. Afdeeling di daerah Palembang hanya dipimpin oleh pejabat kolonial dengan predikat Asisten Residen, yang ke atas bertanggung jawab pada residen, dan ke bawah memimpin sejumlah kontrolir.Tradisi Islam menjadi unsur penting dalam tatanan  masyarakat Sumatera Selatan, baik di Kota Palembang maupun didaerah pedalaman ilir dan ulu.  Maka Pemerintah Hindia Belanda perlu mengangkat Pangeran Penghulu (dari keluarga Sultan) sebagai pejabat pemangkuadat. Ia menyeleksi dan menyesahkan khatib serta lebai yang antara lain bertugas memudahkan pernikahan. Mahalnya biaya nikah dianggap menjadi pangkal rendahnya pertumbuhan penduduk. Ketika Sultan Mahmud Badaruddin II bertahta di awal abad 19, penduduk Kesultanan Palembang diperkiran baru sekitar 300.000 jiwa. Pemerintah Hindia Belanda tak banyak membuka investasi di Karesidenan Palembang hampir di sepanjang abad 19. Kehadirannya lebih untuk mengamankan pertambangan timah di Bangka yang kemudian melebar ke Belitung. Perhatiannya atas  wilayah di luar Jawa relatif tidak terlalu besar sampai menjelang pergantian abad 19 ke 20. Investasi pemerintah ketika itu diarahkan ke pengembangan infrastruktur ekonomi di Jawa yang mengalami booming pasca pemberlakukan kebijakan tanam paksa (cultuur stelsel). Perekonomian Karesidenan Palembang mulai menggeliat dengan tumbuhnya industri minyak. Eksplorasi produksi dimotori oleh perusahaan swasta Nederlandsche Indische Exploratie Maatschappij tahun 1895, yang mengelola ladang di daerah Banyuasin dan Jambi. Dengan makin meluas areal konsesi di tangannya, swata ini pun menggandeng perusahaan negara NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij atau Royal Dutch Petroleum , membentuk kongsiSumatera–Palembang Petroleum Maatschappij. Selain memproduksi minyak mentah, kongsian ini membangun kilang mini di Bayung Lincir. Sementara itu ladang-ladang minyak di Lematang Ilir dan Muara Enim dikelola oleh Muara Enim PetroleumMaatschappij. Ladang-ladang minyak baru kemudian ditemukan beberapa tempat. Jalan-jalan darat pun dibangun menuju ke depot-depot minyak mentah itu. Dengan meruahnya minyak mentah ini, dibangunlah sebuah kilang besar di Plaju, dan kilang itu mulai beroperasi tahun 1900. Industri pengolahan minyak itu dikelola oleh perusahan patunganRoyal Dutch dan Shell, perusahaan swasta Belanda yang di kemudian hari tumbuh sebagai raksasa minyak dunia. Kilang Plaju saja tidak cukup. Maka, Stanvac membuka kilang baru di Sungai Gerong, 1926. Booming minyak itu kemudian mendorong Pemerintah Hindia Belanda membangun Palembang menjadi kota modern di awal abad 20. Kebun karet yang kini menjadi komoditas unggulan di Sumsel juga baru muncul awal abad 20, tidak lama setelah tanaman bergetah itu dibudidayakan di Sumatera Timur 1902. Perkebunan lalu menjamur memanfaatkan bekas lahan perkebunan tembakau yang telah gagal secara bisnis. Rakyat tidak mau ketinggalan. Mereka menanamnya untuk mengisi sebagian lahannya yang diusahakan secara berpindah-pindah itu, dan ternyata hasilnya bagus. Tumbuhlah perkebunan rakyat di Karesidenan Palembang. Kelapa sawit sebetulnya hadir dulu di Sumsel. Namun, uji coba budidayanya gagal memberikan hasil yang memadai. Maka, setelah minyak bumi dan karet, komoditas andalan Sumsel di permukaan abad 20 adalah batu bara yang mulai digali 1918 dari Tanjung Enim. Bersama dengan kopi, yang telah dibudidayakan secara terbatas di daerah Lahat, Lubuk Linggau serta Pagar Alam, minyak bumi, batu bara, dan karet adalah penggerak ekonomi Sumsel sejak awal abad 20. 

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 pun mengantar Karesidenan Palembang sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia. Dalam perjalanannya, Karesidenan Palembang pun berubah status menjadi Provinsi Sumatera Selatan. Sesuai potensinya, Sumsel cepat tumbuh menjadi sentra industri yang penting di Indonesia. Palembang muncul sebagai kota utama, dan diperkuat dengan ikon khas Jembatan Ampera, yang ketika diresmikan 1965, merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Industri pengolahan minyak di Plaju terus tumbuh dan menjadi kilang utama nasional. Pupuk Sriwijaya yang mulai beroperasi 1963 menjadi tonggak bagi lahirnya industri petrokimia domestik. Karet hasil perkebunan besar dan kebunan rakyat pun memasok bagian besar dari kebutuhan karet nasional. Bisnis hutan tanaman industri (HTI) pun tumbuh secara masif sejak dekade 1990-an di Sumsel, hingga membuat provinsi ini menjadi daerah yang penting bagi industri pulp dan kertas nasional. Berbarengan dengan itu, tanaman kelapa sawit, yang diusahakan oleh rakyat maupun perkebunan besar, semakin luas, dan melahirkan banyak industri di hilir. Satu hal lagi yang sering luput dari perhatian, bahwa Sumsel adalah produsen kopi terbesar di Indonesia. Kota-kota di Sumsel tumbuh menjadi kota modern. Palembang lantas terlahir kembali sebagai bandar internasional. Bahkan, sejak 2005 Pemerintah menetapkan ‘’Mahkota Rawa Palembang’’ sebagai Kota Wisata Air. Palembang akan didorong untuk bersaing dengan Bangkok dan Phnompenh sebagai kota yang mempesona dengan panorama airnya


Rabu, 31 Mei 2017

Mario Andramartik Kembali Terima Penghargaan


Upaya Mario Andramartik dalam mempromosikan sektor pariwisata khususnya di Bumi Seganti Setungguan secara mandiri dan berkelanjutan terus mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Rabu (24/5) lalu bertempat di Hotel Aryaduta Palembang, salah seorang putra kebanggaan Lahat ini kembali menerima penghargaan, yang kali ini dipersembahkan oleh Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan (Sumsel), untuk kategori "Pejuang Pariwisata Mandiri" di Kabupaten Lahat.
Penghargaan bergengsi ini diraih oleh Mario bersamaan dengan penghargaan yang dipersembahkan bagi sejumlah tokoh lainnya, diantaranya Gubernur Sumsel H. Alex Noerdin, Anggota Komisi X DPR RI Hj. Sri Meliana, Walikota Palembang Harnojoyo, Walikota Lubuk Linggau Putra Prana Sohe, Bupati Muaraenim Muzakir Sai Sohar, dan Walikota Pagaralam Ida Fitriati. 
Mario Andramartik, usai menerima penghargaan mengungkapkan terkesan dengan apresiasi yang baru saja diberikan kepadanya itu.
Menurutnya, sebagai putra daerah, sudah menjadi kewajibannya mempromosikan destinasi dan objek pariwisata yang ada di Kabupaten Lahat. Terlebih dikatakannya, Kabupaten Lahat menyimpan begitu banyak destinasi dan objek wisata, bahkan diperkirakan masih banyak pula yang masih tersembunyi.
"Kita punya benda megalit terbanyak di Indonesia, jumlahnya ada ribuan dan sudah dikukuhkan dalam rekor MURI. Juga air terjun, kita punya ratusan destinasi dan jumlah ini sudah disetujui oleh MURI sebagai terbanyak di Indonesia. Selain itu, kita memiliki destinasi wisata sungai yang cocok untuk rafting, Bukit Serelo dan Bukit Besak yang cocok untuk olahraga paralayang, dan masih banyak lagi," urai pria yang juga mengetuai Panoramic of Lahat ini.
Nah, destinasi dan objek wisata yang ada itu tentu memerlukan promosi yang optimal. Sebab, menurut Mario, berbicara pariwisata adalah juga berbicara ekonomi. Dimana, jika sektor pariwisata itu dikembangkan dengan baik maka dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ekonomi daerah tujuan wisata.
Misalnya ujar Mario, kunjungan wisatawan ke suatu tempat tujuan wisata. Untuk mencapai tujuan, tentunya memerlukan sarana transportasi. Nah, ini keuntungan bagi penyedia jasa transportasi.
Di perjalanan, bukan tidak mungkin wisatawan mampir untuk membeli makanan khas tradisional yang ada di tepian jalan lintas, lagi ini keuntungan bagi para pedagang kuliner lokal. 
"Sesampainya di tempat tujuan, para pengunjung mungkin akan membeli souvenir atau cinderamata, dan lagi ini keuntungan bagi masyarakat lokal yang menyediakan souvenir. Artinya, pengembangan pariwisata sangat erat kaitannya dengan ekonomi," jelasnya.
Mario berharap, pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Lahat kedepan dapat lebih maksimal dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada.
Disamping membangun sarana penunjang seperti infrastruktur jalan menuju lokasi objek wisata dan melakukan sejumlah renovasi terhadap sarana dan prasarana yang sudah ada, sebagaimana telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lahat sejauh ini, juga perlu dilakukan upaya lainnya.
Salah satunya, disarankan Mario, perlu dibuatkannya peta geografis potensi wisata yang ada di Kabupaten Lahat, yang menampilkan secara detail lokasi-lokasi sebaran destinasi dan objek wisata bagi para calon pengunjung.
"Peta geografis nanti dapat kita pajang di gerbang atau pintu masuk Kabupaten Lahat. Sehingga, setiap orang yang masuk Kabupaten Lahat tahu apa saja dan di mana lokasi sebaran destinasi dan objek wisata yang ada di Bumi Seganti Setungguan,"terangnya.(Ehdi Amin,Sripo.com)

Kamis, 11 Mei 2017

BUMI BUKAN HANYA UNTUK HARI INI


Ketika kita berada di Kebun Raya Bogor betapa kita merasakan segarnya udara. Sejauh mata memandang hamparan rumput  dan pohon-pohon bahkan banyak pohon yang telah berusia ratusan tahun.

Di beberapa kota seperti Bandung dan Lahat dimana berdiri dengan kokoh pohon-pohon mahoni dan trembesi yang berumur ratusan tahun yang ditanam di masa Belanda. Bandung dan Lahat merupakan 2 kota di Indonesia yang masih banyak menyisakan pohon-pohon mahoni dan trembesi berukuran raksasa. Ketika kita berada di jalan Cipaganti, Bandung atau jalan Sai Sohar, Lahat terasa betapa rindangnya kawasan ini.

Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat mencapai ukuran diameter 10 cm atau lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 meter di atas permukaan tanah. Kita sangat membutuhkan pohon dalam berbagai hal seperti pohon mengeluarkan O2 untuk kita bernafas, untuk kita berteduh ketika panas atau hujan, untuk menyimpang air tanah, untuk mencegah longsor dan manfaat lainnya.  Sebagai contoh sebuah pohon trembesi mampu menyerap 28 ton Co2 pertahunnya, pohon trembesi yang ditanam di lahan satu hektar dapat mengikat 0,6 ton O2 (Oksigen) perhari. Pohon ini unggul menanggulangi banjir , mampu menyimpan 900 meter kubik air juga menyalurkan 4.000 liter air perhari.  Selain sebagai tanaman penghijauan, akar Trembesi dapat digunakan sebagai obat tambahan saat mandi air hangat untuk mencegah kanker. Ekstrak daun trembesi dapat menghambat pertumbuhan mikrobakterium Tuberculosis yang dapat menyebabkan sakit perut. Trembesi juga dapat digunakan sebagai obat flu, sakit kepala dan penyakit usus.

Kita harus peduli dengan pohon karena berdasarkan survey di seluruh hutan di dunia, area pohon seluas 36 lapangan sepak bola hancur setiap menitnya. Dari udara yang kita hirup sampai kertas untuk kita menulis, sebuah masa depan yang cerah bergantung pada hutan kita. Beberapa alasan mengapa kita perlu peduli dengan pohon, sekarang untuk perubahan yang lebih baik!

1. Kita butuh pohon untuk bernapas
Kita bisa berada dalam masalah besar tanpa adanya pohon kita. Pohon mengubah karbondioksida dari atmosfir dan melepas oksigen melalui sebuah proses yang disebut fotosintesis. Pada dasarnya, seluruh makhluk hidup di bumi membutuhkan oksigen untuk bernapas dan hutan menjalankan sebuah peran yang sangat penting dalam siklus oksigen global yang kompleks. Deforestasi dan degradasi hutan menjadi suatu ancaman bagi kualitas udara kita, dan berkontribusi hingga 15% dari emisi gas rumah kaca global.

2. Pohon mengatur iklim kita dan membantu memerangi perubahan iklim
Pohon membantu mengatur perubahan iklim. Mereka berperan melakukan isolasi untuk planet ini dan membantu untuk menjaga suhu bumi agar senantiasa konsisten. Hutan tropis adalah penyerap karbon terbesar di bumi. Setiap tahunnya, hutan tropis menyimpan sekitar 2.8 miliar ton karbon—setara dengan dua kali emisi CO2 dari Amerika Serikat. Ketika pohon habis, tidak hanya CO2 yang terlepas ke atmosfer, namun hanya ada sedikit pohon yang menyerap gas rumah kaca. Perubahan iklim akan meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrim. Melindungi hutan kita dari deforestasi dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam. Menyelematkan pohon berarti menyelamatkan nyawa.

3. Pohon menghasilkan air
Pohon merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus air. 75% air dunia berasal dari hutan, yang melembabkan udara melalui suatu proses. Air yang terkandung dalam udara bergerak ke dalam dan jatuh yang sebagai hujan, yang akan menjaga perkembangan tumbuhan dan pertumbuhan pohon. Tanpa proses ini, daerah-daerah yang luas termasuk kota dan lahan pertanian akan jauh lebih kering. Hutan juga membantu mengurangi resiko banjir dengan memperlambat laju air hujan yang mengalir dari pegunungan ke sungai, membantu tanah menyerap air dan melepaskannya perlahan ke dalam suatu tempat penyimpanan. Dengan proses ini pula, pohon dapat membantu meningkatkan kualitas air dan mengurangi erosi tanah. Manfaat-manfaat ini menjelaskan bahwa pohon dan hutan dapat membantu kita untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, dan bukan hanya mengurangi besarnya perubahan iklim.

4. Manusia dan hewan bergantung pada hutan
Hutan adalah rumah bagi lebih dari setengah spesies tumbuhan dan hewan di dunia dan hutan juga turut mempertahankan mata pencaharian lebih dari 1 milyar orang—60 juta dari mereka adalah pribumi dan masyarakat adat, dan hampir dari seluruhnya bergantung pada hutan. Degradasi hutan memiliki dampak langsung pada jutaan keluarga di seluruh dunia, terkait dengan keseimbangan ekosistem hutan hujan yang ada. Sebagai contoh, petani kecil yang mengandalkan spesies-spesies tertentu dari serangga dan burung yang tinggal di sekitar hutan hujan untuk datang dan menyerbuki tanaman mereka.

5. Kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah sama tanpa pohon
Anda tidak harus tinggal di dekat hutan untuk memiliki hutan dalam hidup Anda. Pohon memungkinkan kita untuk menghasilkan produk-produk penting yang kita gunakan dan rasakan manfaatnya di kehidupan kita sehari-hari—dari balok kayu yang menjadi atap dimana Anda bernaung, sampai dengan halaman kertas yang menjadi bahan dasar majalah favorit Anda. Selain kayu, hutan juga menjadi tempat bernaung tanaman hidup yang dapat memberikan kita seperempat obat yang ada di dunia. Menurut Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, dari 3.000 tanaman yang teridentifikasi aktif terhadap sel kanker, 70%-nya berasal dari hutan hujan.

Dari uraian di atas terlihat betapa pentingnya pohon bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Tetapi sangat disayangnya masih banyak terjadi penebangan pohon di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Di Indonesia sendiri penebangan pohon terjadi di banyak daerah, hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat dan kurang atau belum adanya aturan dari pemerintah yang mengatur secara detail tentang menebang pohon.

Pemerintah Indonesia telah mengatur tentang hutan akan tetapi tentang pohon yang berada di kota-kota di atur sendiri oleh daerah yang dituangkan dalam Peraturan Daerah. Ada beberapa daerah yang telah membuat perda tentang menebang pohon seperti Propinsi DKI Jakarta, Kota Surabaya, Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Berau. Sedang di daerah lain penebangan pohon di kawasan kota masih terjadi dan membuat kota menjadi panas karena kurangnya ruang terbuka hijau dan minimnya pohon-pohon.

Sudah seharusnya semua daerah mengatur tentang penebangan pohon dengan membuat Peraturan Daerah tentang Menebang Pohon. Dalam perda tersebut harus jelas kententuan dan sangsi menebang pohon misalnya siapapun baik masyarakat maupun pemerintah yang baru membuka lahan dan menebang pohon maka harus mengganti sejumlah pohon yang ditebang walaupun pohon tersebut milik pribadi dan di lahan sendiri. Karena satu pohon yang ditebang efeknya akan dirasakan oleh daerah di sekelilingnya.

Dengan adanya peraturan daerah di setiap daerah di Indonesia maka setiap sudut desa dan kota di Indonesia akan hijau dan rindang.  Pengaturan dalam Peraturan Daerah  adalah untuk melindungi dan melestarikan keberadaan pohon yang dimiliki Pemerintah Daerah yang berfungsi untuk menjamin keseimbangan ekosistem daerah serta dapat meningkatkan nilai estetika daerah. Sepanjang jalan desa, perumahan dan jalan perkotaan harus ditanam pohon penghijauan. Pohon di tepi jalan dapat berfungsi sebagai peneduh, pencegah erosi, penyerap polusi udara, pemecah angin, pembatas pandang, estetika dan resapan.
Mari menanam pohon, hijaukan bumi kita, bumi bukan hanya untuk hari ini. (Mario Andramartik).

Rabu, 10 Mei 2017

MEGALITIK PASEMAH


Kata "kebudayaan berasal dari (bahasa Sanskerta) yaitu "buddayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata "budhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai "hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal".
Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.
Perkembangan kebudayaan masyarakat awal Indonesia berdasarkan pembagian masa adalah:
1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan.
Ciri-ciri manusia pendukungnya:
• Hidupnya tergantung pada alam
• Tinggalnya di gua-gua
• Berpindah-pindah tempat/nomaden
• Dalam mencari makan, mereka melakukan kegiatan berburu
• Membuat alat bantu sederahana dari batu dan tulang
• Membuat tulisan gores pada dinding gua untuk mewariskan pengalaman dan pengetahuannya
• Percaya pada kekuatan magis
• Mulai mengenal cara penguburan mayat
• Mulai menggunakan warna-warna dalam benda hasil budayanya.
2. Masa bercocok tanam
Ciri-ciri manusia pendukungnya yaitu :
a. Hidup berkelompok
b. Mulai membuka hutan untuk digunakan sebagai ladang dan tempat tinggal
c. Memlihara hewan ternak
d. Tetap menggunakan cara berburu
e. Mulai berkelompok dalam sebuah perkampungan namun masih sering berpindah-pindah
f. Populasi penduduk meningkat
g. Mulai bekerja sama dengan manusia lain
h. Muncul mutilasi bagian tubuh.
3. Masa perundagian (masa pengolahan logam)
Ciri-ciri manusia pendukungnya yaitu :
a. Mulai mendirikan rumah sebagai tempat berteduh dengan begotong royong
b. Bertani sudah dilakukan sebagai mata pencaharian
c. Mulai membudidayakan hewan atau tanaman tertentu
d. Mulai menetap dalam waktu yang cukup lama
e. Muncul ikatan sosial antara masyarakat dan keluarga
f. Muncul aktifitas lain untuk mengisi waktu di sela-sela kegiatan bertani
g. Mulai muncul sistem ekonomi barter
h. Muncul hirarki kepemimpinan
Kebudayaan awal Indonesia seperti tersebut di atas peninggalannya berupa megalitik ditemukan terbanyak se Indonesia di kawasan Pasemah/Besemah (Lahat,Pagaralam & Empat Lawang). Akan tetapi peninggalan awal kebudayaan Indonesia tersebut belum mendapat tempat yang semestinya seperti masih banyak masyarakat yang belum tahu dan mengenalnya juga pemerintah daerah belum menetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten/Kota sesuai dengan UU Cagar Budaya No.11 thn 2010.
Seharusnya Pemerintah Daerah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten/Kota lalu Bupati/Walikota menetapkan menjadi Cagar Budaya Kabupaten/Kota kemudian dapat ditingkatkan menjadi Cagar Budaya Propinsi terus menjadi Cagar Budaya Nasional dan terakhir dapat menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO.
Salam Lestari Budaya Indonesia.(Mario Andramartik)